Published On: Sat, Jan 19th, 2013

Karawang Butuh Solusi Inovatif Atasi Banjir

Penyebab Banjir di KarawangBanjir datang lagi. Menenggelamkan pemukiman dan pesawahan di Karawang. Ada yang bilang, banjir tahun ini lebih parah dari tahun 2010, tapi ada juga yang mengatakan masih belum seberapa dibandingkan tahun 2010.

Lebih parah atau tidak, banjir sudah terjadi. Menyebabkan banyak kerugian. Seperti gambar-gambar yang tersebar via media sosial dan situs Karawang Info, sejumlah perumahan di Karawang khususnya yang berada di dekat daerah aliran sungai (DAS) Citarum dan Cibeet dilanda banjir dengan ketinggian yang bervariasi.

Pemerintah sendiri sebenarnya bukan tidak ada upaya menanggulangi banjir. Penulis yang tinggal 200 meter dari Citarum menyaksikan sendiri proyek normalisasi tanggul. Namun di kawasan tertentu, upaya ini terhambat oleh sikap oknum masyarakat yang menghalang-halangi pembangunan tanggul tersebut. Termasuk, ada yang menuntut pemerintah memberikan ganti rugi untuk bangunan yang terkena normalisasi.

Terlepas dari proses pembangunan kembali tanggul-tanggul tersebut, dari tahun ke tahun debit air Citarum ketika musim hujan memang terus meningkat. Sebagai perbandingan, tahun 2002, penulis tinggal di Perumahan Karaba Telukjambe Barat hanya ada 4 blok yang terkena banjir. Tapi tahun 2013 ini, banjir sudah sampai jalan utama. Begitu pun dengan perumahan lainnya. Tahun lalu tidak terkena banjir, sekarang air masuk tanpa permisi. Maka, dari foto-foto yang beredar, Perumahan Bintang Alam, Pemda, Perumnas, Karaba, Resinda, Galuh Mas, dan Karawang Festivale pun tak luput dari banjir.

Apakah di masa lalu tidak terjadi banjir? Banjir tetap ada tapi tidak separah sekarang. Citarum pun relatif masih lebih ramah dibanding sekarang. Tahun 1980-an waktu masih duduk di sekolah dasar, penulis seringkali mandi di kali Citarum. Saat itu, meski tidak terlalu jernih, namun airnya bersih. Begitu pun kalau pagi hari, sepanjang tepian Citarum banyak perempuan yang mencuci pakaian.

Banjir Resinda Karawang 2013Kini, setelah tiga puluh tahun berlalu, pemandangan seperti itu sulit ditemui lagi. Di musim kemarau, air Citarum berwarna hitam, kadang berbusa. Ada yang menyebutkan perubahan itu karena banyak industri yang membuang limbah ke kali tersebut. Tapi ada pula yang mengatakan perubahan warna air Citarum akibat dari pembuangan limbah domestik (rumah tangga). Keduanya benar. Limbah industri dan rumah tangga menjadi penyebab buruknya kondisi Citarum saat ini.

Untungnya, pada musim hujan seperti saat ini, air Citarum tak lagi pekat. Relatif lebih bersih karena berasal dari air hujan yang tidak tertampung Waduk Jatiluhur.

Tapi kekhawatiran lain muncul. Sedimentasi yang tinggi menyebabkan air gampang meluap. Dulu, berapapun debit air, pemukiman di sekitar Citarum tidak pernah terendam banjir. Sekarang sangat berbeda. Banjir seperti telah menjadi langganan bagi warga di tepian Sungai Citarum. Kasusnya kurang lebih sama dengan daerah-daerah langganan banjir di sepanjang kali Ciliwung di Jakarta.

Sebenarnya rindu juga dengan kondisi Citarum seperti dulu. Bisa buat memancing, mandi dan mencuci. Tapi sekarang sepertinya hanya mimpi belaka. Tapi ya apa boleh buat. Kerusakan alam di sekitar hulu Citarum memberikan kontribusi yg besar terhadap meningkatnya debit air Citarum di musim hujan seperti sekarang ini. Peninggian tanggul ternyata belum cukup efektif menahan luapan Citarum. Bahkan di Desa Telukbango dan titik lain, tanggul jebol menenggelamkan empang dan pesawahan. Sejumlah kecamatan lain pun dikabarkan mengalami hal yang sama. Sawah terendam banjir.

Membangun Sumur Resepan, Waduk dan Situ

Pertanyaannya, apakah banjir ini akan dibiarkan terus terjadi setiap tahun dan dianggap fenomena alam biasa atau ada tindakan radikal untuk meminimalisir kondisi tersebut? Semua terpulang pada para pengambil kebijakan di pemerintah khususnya Pemkab Karawang.

Karawang sudah sesak. Polusi air, udara dan tanah terus terjadi setiap hari. Perubahan fungsi memunculkan fenomena kanibalistik. Karawang telah menjadi jantung dari sebuah proyek bernama pembangunan, dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.

Maka, kalau boleh berharap, Pemerintah Kabupaten Karawang saat ini hendaknya berpikir lebih cerdas dalam mencari solusi-solusi persoalan yang muncul. Persoalan banjir akan terus terulang dengan sebaran wilayah yang makin meluas, jika pemerintah hanya berprinsip as usually. Kita tidak bisa berharap banyak kawasan hulu seperti Bandung dan Purwakarta masyarakatnya menghijaukan hutan, dan lain-lain.

Faktanya, setiap tahun kerusakan alam di hulu Citarum semakin meningkat. Karena itu, dalam skala lokal, penulis mengusulkan gerakan pembuatan sumur resapan dan juga pembangunan waduk atau bendungan di Karawang sebagai sarana mengelola air, baik pertanian maupun air minum. Termasuk memfungsikan kembali situ-situ yang faktanya sudah tidak banyak berfungsi atau kini beralih fungsi. Selain upaya lainnya pembenahan drainase di semua lokasi. Semua upaya ini, harus berjalan simultan untuk tujuan meminimalisir banjir yang sudah sangat merugikan. Semoga menjadi perhatian bersama.

*) Karnali Faisal
Penulis tinggal di Perumahan Karaba Karawang
Aumni SMAN 1 Karawang
http://www.facebook.com/karnali.faisal

Silahkan Berkomentar Dengan Akun Facebook Anda!

comments

Displaying 1 Comments
Have Your Say
  1. surim says:

    want to organize my life better than today … I miss Indonesian leaders are just and wise …..

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>