Published On: Thu, Sep 13th, 2012

Evaluasi Pembelajaran Matematika

Matematika AritmatikaTahun 1976, semua guru sekolah dasar di Kabupaten Karawang diharuskan mengikuti penataran bidang studi matematika. Materi penataran berisi konsep-konsep matematika secara rinci. Setelah penataran para guru diwajibkan untuk menerapkan konsep-konsep itu kepada anak didik. Lewat 10 tahun, muncul keluhan bahwa matematika tidak menjawab kebutuhan masyarakat. Maka pelajaran matematika yang dianggap terlalu luas itu disempitkan menjadi aritmatika atau berhitung (salah satu cabang matematika).

Alhasil, buku-buku matematika diganti dengan buku baru dengan cover aritmatika. Karena pada jaman orde baru kata arit sangat sensitif maka buku aritmatika itu ditarik kembali dan diganti dengan cover matematika, sedangkan isinya adalah aritmatika, atau berhitung. Prinsip-prinsipnya tidak berbeda dengan ilmu berhitung sebelum pelajaran tersebut diganti dengan matematika. Dengan demikian, sebenarnya, pelajaran matematika di sekolah dasar sekarang ini, hanya sebagian kecil dari matematika. Lebih tepat jika disebut sebagai Ilmu Berhitung saja, jika tidak mau memakai kata aritmatika.

Ketidakberhasilan matematika saat itu menurut pengamatan saya secara pribadi, bukan karena materinya tapi lebih karena cara-cara penataran yang terasa sebagai “sambil lari”. Tergesa-gesa. Kebanyakan guru sulit utuk melakukan perubahan hanya dengan penataran yang 15 hari lamanya. Itupun adakalanya tutor tampak tidak mampu menyampaikan materi dengan mantap.

Perubahan dari berhitung ke matematika, baru dari segi kata saja, sudah menjadikan orangtua murid banyak yang “kaget”, yang mestinya tidak usah. Rasa kaget itu lama kelamaan berubah menjadi sikap “menyerah”. Seolah orang tua tidak bisa lagi mengajarkan masalah berhitung kepada anak-anaknya sebagai upaya membantu guru dalam pelajaran berhitung. Lucu sekali. Apapun namanya sebenarnya tak ada perubahan. Angka-angkanya tetap sama. Kali, bagi, tambah, kurang tetap sama. Yang menjadi masalah besar adalah, banyak guru yang “menyalahkan jawaban benar dari anak-anak” hanya karena cara yang dipakai anak-anak tidak sama dengan cara guru. Guru yang bersikap seperti ini besar kemungkinan adalah guru yang “menyembunyikan” ketidakmampuannya mengajar. Sikap kaku dari guru-guru seperti ini menjadikan anak-anak semakin jauh dengan “senang berhitung”.

Harus ada usaha yang harus dilakukan secara menyeluruh oleh semua pihak agar tercipta perubahan. Dengan usaha ini diharapkan kamunitas pendidikan di Kabupaten Karawang tidak mejadi juru kunci dalam peringkat kemampuan anak-anaknya dalam pelajaran berhitung.

 *) Hakimi
Tinggal di Kotabaru Karawang
http://www.facebook.com/kakekhakimidisini

Silahkan Berkomentar Dengan Akun Facebook Anda!

comments

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>