Published On: Thu, Oct 20th, 2011

Reshuffle Kabinet, Nostalgia Kah?

Oleh : Uwes Al-Qorni

Reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu IIBudaya reshuffle mungkin sudah tidak awam lagi di telinga kita akhir-akhir ini. Pergantian kursi menteri kabinet Indonesia bersatu semakin panas. Timbul polemik di masyarakat tentang seberapa pentingnya reshuffle di pemerintahan SBY yang sudah hampir akhir ini. Salah satu jawabannya adalah kepentingan politik SBY di pemerintahan selanjutnya. Kita tengok ke belakang di rezim Soeharto yang sangat machiavellian. Militer seakan menjadi tolak ukur akan ambisi seorang prajurit. Budaya berlama-lama “nginep” di istana negara-menjadi presiden, red- semakin jelas akan terulang kembali. Dengan didukung oleh para “kacung” yang duduk di kabinet akan menguatkan upaya machiavellianisme SBY.

Mengatasnamakan stabilitas negara, mereka semakin tidak terbantahkan. Dengan kewenangan yang luar biasa inilah, memperbesar peluang SBY untuk kembali mencalonkan diri pada pemilu 2015 mendatang. Jika SBY behasil mencalonkan kembali maka kita akan kembali merasakan rezim Soeharto yang notabene mempunyai kesamaan alumnus militer.

Stabilitas negara yang kurang konsisten ditambah menurunnya tingkat kepercayaan rakyat terhadap pemerintahan semakin diperburuk dengan adanya RUU inteleijen. Transparansi data kepada rakyat semakin terbatas. Hal ini pun akan mempersempit ruang bebas berpendapat bagi rakyat terutama pers. Sedangkan simbol dari kebebasan berpendapat adalah adanya kemerdekaan bagi pers. Hal-hal di atas lah yang semakin memperjelas bahwa reshuffle yang dilakukan oleh SBY merupakan hal yang mubadzir.

Mungkin dari tadi pembaca ada yang belum mengetahui apa arti machiavelli. Machiavelli adalah seorang ahli politik yang juga seorang filsuf. Teorinya sangat dekat dengan perwujudan bentuk negara monarki. Dalam hal penyelenggaraan politik ini negara membutuhkan kekuasaan, wujud kekuasaan fisik dan kualitas penguasa untuk mempertahankan kekuasaan negara, sehingga diperlukan kekuatan militer. Maka tidak asing bagi presiden dari militer sering menjalankan program yang tidak jelas. Mari sebagai bangsa Indonesia yang aktif bersuara kita satukan suara untuk perbaikan kinerja pemerintah. Tanpa kita, siapa lagi?

*) Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Silahkan Berkomentar Dengan Akun Facebook Anda!

comments

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>