Published On: Wed, Apr 7th, 2010

Jejak Sejarah Jalur Kereta Api di Rawagede Karawang

Jalan Kereta jaman Penjajahan Rawamerta (KarIn) – Sebagian besar jalur kereta api yang dibangun Belanda di Karawang musnah tertelan jaman. Dari beberapa puing-puing peninggalan jalur kereta api tempo dulu ini, salah satunya bisa dilihat pada jalur kereta api antara Karawang – Rengadengklok yang ada di Rawagede, Kec. Rawamerta. Walaupun tidak utuh, setidaknya dari peninggalan ini kita bisa mempelajari dan melihat seperti apa masa keemasan jalur kereta api di Karawang dahulu kala.

Peninggalan di Rawagede ini adalah berupa bekas stasiun dan rel kereta api yang puing rerentuhannya masih bisa kita lihat. Walaupun secara fisik sudah tidak ada lagi, tetapi penduduk Rawagede dan sekitarnya masih menyebut daerah tersebut “Sepur.” Ada juga jembatan penyeberangan dari Tegal Sawah ke Rawaleutik juga masih aktif dan dipergunakan untuk transportasi khususnya roda 2 sampai dengan saat ini.

Adapun jembatan kereta api yang ada di Rawagede (orang Rawagede menyebutnya Sasak Kareta) yang melintasi ‘walungan’ (sungai) sudah sejak lama tidak difungsikan lagi, karena medannya yang curam dan sering menimbulkan kecelakaan. Fondasi jembatan ini masih tampak berdiri kokoh dengan ciri bangunan khas made in Belanda.

Yang paling kelihatan diantaranya yang lain adalah “Sasak Bodas” yaitu jembatan kereta yang berada di Kobak Karim Desa Kalangsurya (Kalangsari). Jembatan ini masih berdiri kokoh melintasi  sungai/irigasi dan selalu di cat dengan warna perak keputih-putihan. Karena warnanya yang putih ini kemudian warga menyebutnya Sasak Bodas (sasak putih).  Sampai saat ini, jembatan ini masih difungsikan oleh masyarakat sekitar untuk jalan kendaraan roda 2 maupun roda 4.

Sedangkan bekas jalur kereta api sekarang sudah beralih fungsi menjadi sawah dan perumahan penduduk mulai dari Tegal Sawah hingga Kalangsari. Penduduk setempat menyebut perkampungan tersebut ‘Babakan Ngantay’ karena memang formasinya beriringan persis seperti kereta. Rumah-rumah yang dibangun pada lahan tersebut, banyak yang sudah permanen walaupun kepemilikan tanah tersebut masih milik PT KAI.

Secara kasat mata, orang tidak akan percaya kalau jaman dahulu di daerah Rawagede ada jalur kereta dari Karawang ke Rengasdengklok apalagi bagi pendatang.

Banyak cerita yang menarik tentang segala macam yang terjadi di Kereta api tersebut seperti yang dituturkan oleh Hj Aan, “Dulu mah ke Dengklok atau ke Karawang itu hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki atau naik kereta api saja. Hanya orang-orang yang benar-benar kaya saja pada saat itu yang mempunyai mobil atau motor. Masyarakat Rawagede yang berpergian dengan kereta, rata-rata nggak pernah bayar, sehingga kalau ditagih karcis oleh kondektur hanya cengengesan aja. Untung kondekturnya baik, paling-paling hanya dicubit,’ cerita Hj Aan.

“Malah saking seringnya bulak-balik menggunakan kereta entah ke Karawang ataupun ke Dengklok, banyak muda-mudi pada waktu itu yang menemukan jodohnya di kereta hingga berlanjut ke pelaminan,” lanjut Hj Aan sambil matanya menerawang seakan menjemput kembali kenangan masa lalunya.

Itulah sisa peninggalan jalur kereta api lama (tempo dulu) di Karawang beserta ceritanya. Untuk Anda yang khususnya melewati ataupun memang sengaja berkunjung ke Rawagede, selain mengunjungi Monumen Rawagede dan Petilasan Jaka Tingkir, Anda juga bisa bernostalgia “Napak Tilas Kereta Api Rawagede” dengan cara menyusuri rute atau jalur kereta api tempo dulu ini. Mulai dari ‘Sepur (Rawagede), Sasak Kareta, Babakan Ngantay, Jembatan Rawaleutik,Tegalsawah  atau rute yang lain Sepur (Rawagede), Sasak Kareta, Babakan Ngantay, Sasak Bodas di Kobakarim, Kalangsari.’

Selain dapat mempelajari sekaligus menyimak puing-puing peninggalan jalur kereta, Anda juga akan menemukan suasana desa yang lain apalagi pada saat musim panen atau padi baru di tanam. Yang perlu diingat, untuk menyusuri rute diatas Anda hanya bisa melaluinya dengan kendaraan roda 2, mengingat jalan disana yang kecil.

Menurut informasi terakhir, apabila ingin bernostalgia untuk melihat kereta api yang dahulu digunakan beserta relnya, Anda bisa melihatnya di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Kereta api tersebut kini digunakan berkeliling wahana yang ada di TMII. (Agus Kusmawan)

_________
Agus Kusmawan
*) Warga Karawang, tinggal di Dusun Rawagede,
Balongsari Rawamerta
Facebook : www.facebook.com/profile.php?id=1233171991

Foto Oleh : ‘courtessy of  juragan tahu’

(Tulisan ini aku dedikasikan untuk Ibunda tercinta Hj. Aan Hasanah & Ayahanda tercinta Didi Kusnaedi (alm). Aku ada, dari  buah cinta mereka berdua karena dengan adanya jalur kereta Karawang-Rengasdengklok tersebut. Semoga tulisan ini bisa sedikit mengingatkan kembali semua kenangan dan cerita cinta mereka berdua. Terima kasih aku ucapkan, semoga Ibunda selalu ada dalam lindungan Allah SWT, sehat selalu dan semoga di alam sana Ayahanda juga  dilapangkan oleh Allah SWT….. Amin.)

Silahkan Berkomentar Dengan Akun Facebook Anda!

comments

Displaying 16 Comments
Have Your Say
  1. Jaya kusumah says:

    Hatrnhn kang ngemutan. . Gning karawang ge gduh sjrah mssa kolonial Belanda, sim kuring ge kantos mireng dalah d daerah kuring ge ay tilas rel teh. . Jalaran kitu saur sepuh kuring eta ge tilas kareta kapungkur mah, trayekna johar-wadas. . Nanging kuring ge kirang terang data empirisna mah. .sim kuring ge hyng trang sajarahna. . Sae pisan seratanana kang. .

  2. Endang gaosulloh says:

    Abdi oge panuju pisan kana eusi seratan anu nyarioskeun sajarah sareng unak-anik kota karawang. Perkawis tilas jalan/sasak kareta kuno,nuju abdi alit mindeng pisan ngagunakeun upami angkat ti lemahabang wadas bade ka kampung rawa dukuh persisna mah di kampung toplas aya sasak tilas rel kareta leutik jurusan wadas cikampek anu digunakeun jalan pangliwatan.tapi ayeuna tos robih janten sasak permanen.hatur nuhun.

  3. Manaruld Hidayat says:

    Betul ! Perubahan tersebut menghasilkan peluang-peluang baru diberbagai bidang.
    Namun masih disayangkan pembangunan yang sudah dijalankan oleh pemerintah daerah Karawang kurang begitu memperhatikan dampak-dampak yang akan ditimbulkan selanjutnya.
    Dan tampaknya dampak pembangunan tersebut sekarang sudah mulai terasa. Banjir dan macet adalah salah satu contoh efek yang diakibatkan oleh pengerasan-pengerasan tanah halaman rumah dan jalan serta pembangunan perumahan penduduk dibantaran bekas rel keretan yang semrawut dengan tanpa menerapkan sistem pengairan (DAS) yang bagus.
    Desa Lemahabang Wadas sebagai pusat 2 stasiun transit menuju Johar – Cikampek dan Sukamandi.
    Dimana kini Stasiun tersebut berubah fungsinya menjadi pasar tradisional yang dikelola oleh pemerintah daerah Karawang.
    Dan pemda menarik retribusi pasar atas sewa tanah lahan PJKA tersebut kepada para pedagang.
    Entah kenapa hanya Stasiun (pasar) saja yang dikelola oleh pemda sedangkan untuk jalur bekas rel kereta dibiarkan terbengkalai dengan tanpa pembangunan infrastruktur.
    Coba kalo pemda mau memanfaatkan bekas rel jalan kereta itu sebagai jalur alternatif untuk para pemudik yang lewat.
    Tentunya kemacetan dari Johar sampai jalur pantura (Sukamandi) dapat ditanggulangi.
    Yang jelas, dari bekas rel kereta tersebut, pemda tidak mendapatkan upeti dari bekas rel tersebut.
    Mungkin nilai ekonomisnya tidak ada, maka bekas rek tersebut dibiarkan terbengkalai sampai kini.

  4. arix says:

    bagusnya di cat lagi….
    dijadiin wisata…

  5. achmad says:

    foto”nya ada lagi ga?

  6. yoyo says:

    Sebarkan pada semua orang Kata Indonesia adalah Railfans, aku ingin menyusuri jalur kereta aktif dan non aktif dan di aktifkan lagi jalur non aktifnya agar Negara lain bisa tau bahwa Negara kita sangat ramai tapi sejahtera dan nyaman !

  7. Dudi Arisandi says:

    Salut buat Kang Agus Kusmawan, tulisannya bagus sekali tentang potret lain yang ada di karawang, sangat berbeda dari yang lain, tulis lagi kang cerita yang lain misalnya jalur kereta yang ke Cilamaya misalnya.

  8. dede says:

    alus kang abdi ngadukung

  9. aguzk says:

    Buat Kang Dudi,
    Ada beberapa tulisan saya yang lain di Karawang Info ini, mengenai Rawagede dari macam-macam cerita.
    Mau sih nulis tentang Jalur kereta yang lain, tapi saya butuh waktu untuk survey dll.
    Tp, terima kasih atas saran & masukannya. Salam.

  10. one stop android store says:

    unik seh cuma fotonya kurang tuh :(

  11. putra says:

    sewaktu masih sekolah saya sering bgt melewati jembatan ini,.,
    tapi skr jembatan ini sudah tua,. jalan ya sudah rusak kurangya perawatan Insa allah pasti jembatan ini hayalah kenangan,.,.,

  12. heru says:

    pada redaksi karwang info mohon beritahu caranya bagaimana cara memposting suatu artikel atau iklan lowongan kerja ke karawang info. terima kasih

  13. clif dias says:

    kang punten saya kangen liat micro kendaraan merci khas karawang yang bentuknya antik kalo bisa minta sejarah awal mula micro bisa hadir di karawang

    tks

    dias

  14. clif dias says:

    oya itu micro masih ada nggak ya di kawang saya kangen pengen naik lagi kalo ada di daerah mana?

  15. deki jakpust alias buerit .kalangsari says:

    boleh juga tuh poto2nya jd kangen pengen mudik .k krajan d bawah naungan /rt/ karta …

  16. yanyan ruhyana says:

    alhamdulillah, teruskan….. majukan karawang…..abadikan seluruh peninggalan Karawang ,..
    sebelum semuanya lenyap ditelan jaman .

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>