Published On: Mon, Mar 22nd, 2010

Citarum yang Tenang Berbicara dengan Bahasanya (Sebuah Lakon)

banjir di kota karawangBanjir di Karawang pada bulan Maret 2010 ini membuat puluhan ribu warga Karawang harus merelakan rumahnya terendam air dari luapan Citarum, tercatat lebih dari 7.000 rumah di lebih dari 7 kecamatan di Karawang. Berbeda dengan tahun sebelumnya, banjir tahun ini hanya disebabkan meluapnya Sungai Citarum dan pasangnya air laut, sedangkan tahun sebelumnya diakibatkan juga dengan hujan yang lebat di Karawang. Namun jika dilihat effek dan persebarannya, banjir di Karawang tahun ini dinilai lebih parah. Tingginya air Citarum ini diakibatkan kiriman dari Waduk Jatiluhur yang terus melimpah akibat kiriman dari Gunung Wayang (hulu Citarum) dan curah hujan yang tinggi di Kabupaten Bandung.

Jika kita lihat Sungai Citarum yang melintas khususnya di Karawang bagian kota saat ini, kita akan melihat air yang luar biasa banyaknya meluber, namun yang aneh kita pun akan melihat pada permukaan Citarum air mengalir tampak begitu tenang, riak-riak air pun seakan bersembunyi diantara pandangan kita. “Citarum membisu,” bisik seseorang ditengah pemandangan itu. “Tuhan sedang berbicara melalui Citarum!” bisiknya lagi.

Anak SD pun tahu, jika pohon di gunung ditebang maka akan terjadi longsor dan banjir. Anak TK pun sudah diajarkan membuang sampah di sungai akan membuat aliran sungai dan dasar sungai menjadi tersendat. Dan orang dewasa tampaknya lebih tahu kalau banyak rupiah dan dollar dengan memanfaatkan sungai menjadi tempat pembuangan sisa produksi (lebih hemat katanya). Dan lagi-lagi orang dewasa pun lebih tahu jika pohon-pohon di hutan dan gunung punya potensi untuk menambah saldo rekening.

Namun, tampaknya Citarum mengadu kepada Tuhan Yang Maha Tahu. Hingga kemudian Tuhan menyuruh Gunung Wayang menggeluarkan kisah pewayangannya dengan tokoh-tokoh Denawa (raksasa) dan para Kurawa yang murka. Dimana para Pandawa dan para ksatria pewayangan berada? Tampaknya para Pandawa sedang diliburkan karena tirai panggung untuk mereka tertutup oleh ambisi dan keserakahan manusia.

Citarum yang tenang dan diam sedang berbicara dengan bahasanya dalam sebuah lakon pewayangan yang digelar dari Gunung Wayang untuk ditonton hingga muara tempat Citarum berakhir. Sampai kapan lakon ini berakhir? Hanya Sang Dalang (Tuhan) yang tahu. Karena yang kita tahu, adalah detik-detik waktu untuk kita pelajari kembali semuanya sehingga lakon yang sama tidak terulang di kemudian hari.

Deni Andriana
Editor Karawang Info

Silahkan Berkomentar Dengan Akun Facebook Anda!

comments

Displaying 4 Comments
Have Your Say
  1. Ima Ina says:

    Nice article Den. Keserakahanlah yg membuat citarum sudah tak lagi bersahabat dengan manusia.

  2. saskia says:

    Semoga masyarakat karawang selalu tabah dalam mendapatkan coba ini?

  3. […] dari proses pembangunan kembali tanggul-tanggul tersebut, dari tahun ke tahun debit air Citarum ketika musim hujan memang terus meningkat. Sebagai perbandingan, tahun 2002, penulis tinggal di […]

  4. […] Baca artikel saya sebelumnya di tahun 2010 – Karawanginfo.com – berjudul -> Citarum yang Tenang Berbicara dengan Bahasanya (Sebuah Lakon) […]

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>