Tolak Perdagangan Bebas, Ribuan Buruh Serbu Gedung Sate
6th Jan, 2010 | Penulis: Deni Andriana | Rubrik: FotoBandung (KarIn) – Ribuan buruh berunjuk rasa di depan Gedung Gubernur Jawa Barat (Jabar) yang sekaligus juga Gedung DPRD Jabar yakni Gedung Sate yang terletak di Jl. Diponegoro Bandung, Rabu 6 Januari 2010. Dalam tuntutan utamanya buruh yang tergabung dalam SPSI (Serikat Pekerja Seluruh Indonesia) ini meminta agar Gubernur dan DPRD Jabar dengan tegas menolak perdagangan bebas, terutama antara Indonesia dengan Cina dalam kerjasama Asean China Free Trade Area (AC-FTA) dan bentuk perdagangan bebas lainnya. Perdagangan bebas yang membuat banyaknya produk Cina di Indonesia ini dinilai akan menimbulkan banyak kerugian, bagi nasib mereka (buruh) dan juga industri kecil serta UKM yang ada di Indonesia.
Unjuk rasa sendiri berjalan dengan damai. Karena banyaknya massa aksi, selama aksi berlangsung Jl. Diponegoro ditutup dengan lebih dari 2.000 personel polisi mengawal aksi ini. Tergabung juga dalam aksi ini organisasi buruh lainnya diantaranya SPN, Gasperindo, FBSI, GOBSI, KSBSI dan FSPM. Disaat yang bersamaan, Gedung Sate juga kedatangan Menkokesra Agung Laksono dan rombongan dari DPRD Aceh yang tengah melakukan studi banding. (Deni Andriana)






Menyikapi perdagangan bebas (AC-AFTA) Bagi bangsa indonesia adalah suatu dilema yg tak kunjung usai,di satu pihak bagi para pengusaha dalam negri juga para karyawannya suatu tantangan, dan di lain pihak produk-produk impor yg membanjiri pasaran bagi para konsumen adalah pilihan lain yg harganya cukup kompetitif&terjangkau apalagi bagi masyarakat pedesaan barang kali hal ini adalah praduk yg harganya bersahabat di banding barang-barang yg selama ini di konsumsi masyarakat. saya sih dalam posisi netral,contohnya di tempat saya bekrja harga sepotong jeans kualitas di kita hanya sr 20/setara Rp.50.000. klo kita beli di indonesia gak mungkin dapat minimal Rp.100.000
Komentar tentang ACFTA, Indonesia akan jadi korban, dengan 220 juta penduduknya merupakan pasar potensial bagi produk Cina, ini sangat menyesakan. Produk Indonesia kalah dari Cina buka karena kalah kualitas, namun kalah karena harga produk Indonesia mahal, akibat hight cost economic atau tingginya biaya produksi di Indonesia.
Solusi, bagaimana cara pemerintah Indonesia bisa memberikan kredit dengan bunga yang rendah ke sektor riil, bagaimana caranya memotong jalur birokrasi perizinan usaha lebih singkat, bagaimana mental pejabat Indonesia untuk tidak memungut Cost under table, kepada para investor, dan lainnya… ( bisa ga ya….???)
Bila ini dibiarkan , khususnya di Karawang, Industri banyak yang akan bangkrut, PHK merajalela, akhirnya PDRB Karawang jadi rendah, PAD turun dari sektor industri,.
Sektor konsumsi akibat kredit macet turun, karyawan pabrik tidak bisa membayar cicilan rumah, cicilan kendaraan, cicilan alat rumah tangga, akhirnya semua sektor ekonomi menjadi lemah.