Published On: Fri, Dec 12th, 2008

Seniman dan Warga Karawang Butuh Gedung Kesenian

Karawang (KarIn) – Pada pagelaran Lomba Tari Jaipongan di Halaman GOR Panathayudha kemarin (10/12), dalam sambutannya ketua LSM Lodaya, Nace Permana dengan lantang menagih janji bupati dan Pemkab Karawang, dihadapan para undangan seperti dari Dirjen Kesatuan Bangsa dan Politik Dept. Dalam Negeri, perwakilan DPRD Karawang, para seniman, peserta lomba tari dan masyarakat umum. Sayangnya, bupati sendiri tidak hadir dalam acara tersebut yang pada kesempatan itu diwakili oleh Sekda Karawang.

Apa janji tersebut, sehingga Nace dan pihak LSM Lodaya sangat perlu untuk menagihnya di muka umum yang juga dihadiri pejabat dari pusat? Janji tersebut tidak lain adalah janji dari Bupati Karawang yang akan mendirikan Gedung Kesenian di Karawang pada tahun 2006, yang hingga kini (2008) belum juga terwujud.

“Kami merekomendasikan melalui acara jaipongan ini, sekaligus mendesak pemerintah daerah dan pusat untuk peduli dan mendirikan gedung kesenian. Karena, pelaku seni tanpa wadahnya, tanpa atapnya, tidak akan berkembang,” ujar Nace yang ditemui kemudian disela-sela acara oleh KarIn.

Nace pun menambahkan bahwa penyebab terbesar semakin pudarnya seni budaya di Karawang adalah semakin sedikitnya pelaku seni yang ada, dan hal itu diakibatkan oleh sedikirnya ruang bagi mereka untuk berkarya dan berkreasi. Akibatnya kemudian, masyarakat pun semakin menjauh dan tidak mengenali kesenian-kesenian tersebut, apalagi untuk para remaja pada generasi sekarang.

“Yang dicita-citakan para pelaku seni di Karawang ini adalah gedung kesenian. Bahkan harapan kami, gedung kesenian ini bisa live per akhir pekan. Bisa menampilkan bergiliran mulai dari calung, jaipongan, bajidoran segala macam, sehingga bisa dinikmati sebagai hiburan gratis untuk masyarakat,” ungkap Nace.

Lebih lanjut Nace mengungkapkan, berdasarkan penelitian dan kajian yang dilakukan LSM Lodaya, di Karawang sendiri sebenarnya masih menyisakan banyak grup-grup kesenian, terutama di Karawang Bagian Utara. Namun, kebanyakan masih tercecer dan belum solid. Sehingga, sangat menyulitkan untuk saling mendukung satu sama lain dalam  berkembang atau bahkan di titik yang lebih ekstrem adalah mempertahankan diri supaya tidak punah, seperti topeng banjet misalnya.

“Di kita juga sudah ada Dewan Kesenian (yang beranggotakan para seniman dan budayawan Karawang), cuma ya itu tadi tidak bisa berkembang dengan pesat tanpa adanya gedung kesenian. Jadi mereka kesulitan untuk ngumpul. Kecuali kalau ada panggilan saja, baru mereka pada tampil,” ujar Nace.

Di tempat yang sama, Sekretaris Daerah (Sekda) Karawang, Drs. H. Arifin H Kertasaputra, yang mewakili Bupati Dadang S. Muchtar yang sedang mengunjungi panen raya di Cibuaya, mengatakan bahwa sebenarnya Pemkab Karawang sendiri sudah menganggarkan pengadaan gedung kesenian ini dalam APBD dua tahun terakhir ini.

“Tentang janji Pak Bupati terhadap gedung kesenian, saya perlu jelaskan, bahwa gedung kesenian ini memang sudah teranggarkan pengadaannya pada 2007 maupun 2008. Tapi kenapa sampai sekarang belum terwujud, disini saya perlu dijelaskan, saya selaku Koordinator Pengelola Keuangan Daerah, bahwa anggaran untuk pengadaan gedung kesenian ini sebetulnya sudah ada, tapi karena masalah teknis ini, sehingga belum terwujud,” ujar Arifin dalam kata sambutannya menanggapi Nace.

Lebih lanjut, Arifin mengatakan bahwa sebenarnya sudah ada asset tanah yang diperuntukan untuk lokasi gedung kesenian di Komplek Perumnas seluas 1 hektare lebih, namun kendalanya adalah belum terealisasinya pembelian gedung yang ada diatas tanah tersebut, yang masih dikuasai oleh pihak pengembang yang dulu menjalin kerjasama dengan Pemkab. Pemilik bangunan, menurut Arifin mematok harga terlalu mahal, dan hingga saat ini masih dalam tahap negosiasi agar harganya bisa diturunkan.

Selain itu, Arifin pun menambahkan bahwa anggaran yang disediakan untuk pengadaaan gedung kesenian yang bersumber dari APBD itu adalah sebesar 1,5 milyar rupiah.

Melihat desakan LSM Lodaya dan Dewan Kesenian serta jawaban dari Pemkab diatas, tentunya kita bisa mengkaji bersama tentang seberapa penting keberadaan gedung kesenian di Karawang. Jika merujuk pada manfaatnya, terutama untuk melestarikan kekayaan seni budaya Karawang, serta dengan harapan bisa menarik wisatawan yang haus akan wisata seni, maka tentunya gedung kesenian itu memang perlu dimiliki oleh Karawang yang kaya budaya dan seni tradional ini. Dengan catatan, tentunya penggunaan gedung ini nantinya bisa dijalankan secara optimal baik oleh masyarakat umum, pemerintah, para pelaku seni dan budayawan yang ada. (Deni Andriana)

Silahkan Berkomentar Dengan Akun Facebook Anda!

comments

Displaying 4 Comments
Have Your Say
  1. Ridwan Sigit says:

    Memang benar Kang, Gedung Kesenian itu sangat penting untuk eksistensi kesenian di daerah Karawang yang sangat kaya dengan seni(kesenian) tradisi sebab hidup matinya kesenian rakyat adalah adanya dukungan pemerintah dengan menyediaan tempat untuk refertoar karya-karya seni masyarakatnya, apalagi telah didukung dengan adanya kemauan yang keras dari pendukung atau pelaku seni itu sendiri. Jika fasilitas tersebut tersedia dukungan komunal (sponsor) dengan sendirinya akan berdatangan, akhirnya seluruh elemen masyarakat akan bahu membahu menumbuhkembangkan kesenian yang banyak itu, Kang.
    Dalam tesis saya, saya menulis adanya dukungan pemerintah untuk kesenian tradisional pada suatu daerah tertentu adalah bersifat politis semata (ameh henteu teuing we panginten), jadi saya melihat kurang maksimal Kang. Buktinya beberapa Kab/ Kota pemilik seni tradisi (yang oleh bangsa deungeun mah di agung-agung-keun) tidak memiliki Gedung Kesenian yang Refresentatif (tapi henteu di Karawang mah panginten nya?).

    Redaksi : Terimakasih Kang Ridwan Sigit atas tanggapannya. Senang sekali dan mudah-mudahan akan sangat bermanfaat jika Kang Ridwan mau berbagi isi tesis tersebut disini dalam bentuk artikel (ekstraksi) apalagi jika dikaitkan dengan kondisi kesenian yang ada di Karawang khususnya. Hatur nuhun sebelumnya. Jika bersedia silahkan kirimkan ke email : redaksi@karawanginfo.com

  2. hendra WP says:

    Gedung kesenian adalah aset yang sangat besar kalau kita dapat mengelolanya dengan baik dan benar
    “Jangan hanya atas nama industrialisasi dan Teknologi manusia lantas dikorbankan. Maka kita harus mencoba menempatkan kesenian dan kebudayaan dalam tempat yang terhormat, tempat yang sentral”

  3. hendra S.Sn says:

    Diantos kituh saenggalna gedung kasenian teh. tos teu kiat hoyong nongton pertunjukan seni yeuh.

  4. Hakimi says:

    Salam kenal untuk Bung Nace, Ketua LSM Lodaya.
    Sekarang sudah 2013 … ayo ah ..kita lanjutkan tagihannya.

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>