Matikan TV-Mu
22nd Dec, 2009 | Penulis: Deni Andriana | Rubrik: ResensiJudul Buku : Matikan TV-Mu
Penulis : Sunardian Wirodono
Penerbit : Resist Book
Tahun Cetak : Cetakan I, Desember 2005
Tebal : 177 Halaman
____________________________________________________________
Kini, masyarakat diberikan banyak pilihan untuk memilih channel siaran TV yang diinginkannya, tidak hanya TVRI. Maraknya stasiun televisi swasta yang sekaligus meruntuhkan ketunggalan TVRI sebagai TV pemerintah ini yang kemudian mendorong masyarakat untuk mengikat hubungan lebih intim dengan televisi baik secara emosional maupun secara kultural.
Dalam perkembangannya, stasiun televisi khususnya stasiun televisi swasta yang ada, secara geografis tersentral di Ibukota Jakarta, antara lain RCTI, TPI, SCTV, ANTV, Indosiar, Trans TV (kini Trans 7), Lativi (kini TV One), Global TV dan Metro TV. Semuanya mempunyai hak siar secara nasional. Posisi Jakarta sebagai pusat pertelevisian nasional menjadi fenomena tersendiri bagi kualitas stasiun TV yang ada, seperti pada munculnya penggeneralisasian budaya dan program siaran.
Banyak acara ataupun sinetron televisi yang mengambil latar kota Jakarta karena selain tidak memakan ongkos produksi yang mahal juga dapat dikemas secara cepat dan efisien. Kemudian timbulah stigma bahwa Indonesia itu sudah terwakili dengan Jakarta, karena mau tidak mau masyarakat yang menjadi konsumen siaran televisi kebanyakan dicekoki dengan trend Jakarta sebagai pusat informasi juga perkembangan segala aspek kehidupan dari gaya hidup, fashion sampai setting sinetron dan berita.
Dalam buku berjudul “Matikan TV-Mu” ini, Sunardian Wirodono yang telah bergelut di dunia jurnalistik dan media dari tahun 1979 ini, mengungkapkan bahwa ragamnya stasiun televisi di Indonesia ternyata tidak menjadi tolak ukur dari kemajuan pertelevisian Indonesia itu sendiri, karena banyaknya stasiun televisi tidak dibarengi dengan meningkatnya kreativitas yang disuguhkan.
Disatu sisi, banyaknya stasiun televisi yang mengudara memberikan alternatif bagi masyarakat untuk memilih chanel mana yang disukai, tapi di sisi lain keseragaman program acara, kualitas acara tidak memberikan harapan bahwa setelah menonton televisi masyarakat akan lebih cerdas ataupun lebih baik dari sebelumnya. Kemunculan Stasiun TV Lokal pun tidak berpengaruh besar.
Dalam buku ini, Sunardian menganalisa satu persatu jenis acara yang ada ditelevisi kita saat ini, dengan pengalamannya yang lama bergelut di dunia pertelevisian, Ia memberikan peta bahwa banyak acara atau tayangan televisi yang tidak memperhatikan aspek konsumennya, para penonton atau masyarakat ternyata hanya diposisikan sebagai objek.
Banyaknya program yang sama membuktikan bahwa stasiun televisi di negara kita tidak kreatif dan imajinatif, lalu banyak melakukan plagiat, hal ini terbukti dengan adanya tayangan serupa seperti AFI, Indonesian idol, dkk. Lalu, infotaiment, setting sinetron dan banyak lagi.
Tayangan kekerasan, pornografi, sinetron religius adalah contoh dari kurang pedulinya stasiun televisi dalam membangun kualitas masyarakat. Stasiun Televisi yang merupakan media massa sudah banyak mengingkari fungsinya sebagai media pendidikan, kontrol sosial dan penyuguh informasi yang sehat. Stasiun Televisi saat ini terpatok pada fungsi sebagai media hiburan dan media periklanan.
Banyaknya tayangan yang kontra terhadap kemajuan kualitas bangsa disinyalir salah satunya diakibatkan oleh tidak adanya lembaga kontrol yang bisa menghentikan laju stasiun televisi disaat melanggar rambu-rambu normatif yang ada. KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) yang keanggotaanya independen dari kalangan masyarakat dan praktisi adalah yang diharapkan mampu menjadi jembatan dari aspirasi masyarakat dalam menyaring tayangan televisi. Namun, kenyataannya KPI sendiri ternyata tidak disambut baik oleh para pemilik stasiun televisi yang ada, dimana mereka menganggap dengan adanya KPI akan membatasi lahan usaha mereka. Lebih parah lagi, pemerintah kini telah mengubah Kementerian Negara Komunikasi dan Informasi menjadi Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo).
Pada praktiknya dilapangan, Departemen Kominfo ini banyak bertentangan dengan keberadaan KPI sendiri. Ada dua macam perizinan yang kemudian diberlakukan Kominfo. Pertama, penggunaan frekuensi radio untuk perusahaan atau stasiun siaran televisi dan radio siaran. Kedua, menyangkut pemberi ijin penyelenggaraan penyiaran. Dua buah ijin ini mengindikasikan adanya monopoli kekuasaan dari pemerintah. Hal ini menjadikan Kominfo tidak jauh berbeda dengan Departemen Penerangan di jaman Soeharto dulu, dengan menteri penerangan fenomenalnya Harmoko.
Keberadaan Kominfo ternyata malah disambut baik oleh stasiun televisi dibandingkan KPI, karena alasan bahwa regulasi atau pun pengawasan Kominfo lebih kooperatif dan bisa dinego dibandingkan KPI yang berstatus lembaga advokasi masyarakat.
Ditengah hujaman tayangan televisi yang tidak semuanya sehat yang memosisikan masyarakat sebagai objek yang pasif. Tidak ada lembaga yang membela kepentingan masyarakat dalam mendapatkan kualitas tayangan yang baik, maka mau tidak mau dituntut adanya kesadaran dari masyarakat sendiri yang walaupun susah namun merupakan jalan satu-satunya disaat kepentingan modal tidak bisa kompromi.
Buku Matikan TV Mu ini adalah salah satu buku provokatif yang dapat membangkitkan kesadaran kita akan kondisi pertelevisian dinegara kita saat ini yang sebenarnya, dibalik manisnya suguhan yang ditawarkan. Sunardian menulis, “Matikan TV-Mu! Atau kalau berani : Bunuh saja, TV-Mu!” (Deni Andriana)





menyimak om salam kenal
bahasan yang bagus, ini buku sepertinya bagus karena ada anilsa tentang tayangan2 di televisi kita, mampir dulu ke toko buku ah sapa tau nemu bukunya, makasih mas! good post!
Yup, pernah ga sih kita masing-masing berhitung berapa jam TV nyala dirumah? kalau sudah menghitungnya, anda akan tahu bahwa memang saatnya matikan tv-mu
Manfaat TV adalah ketika TV itu dimatikan.