Media Online Warga karawang

Si Kabayan Seorang Filsuf Sunda

16th Dec, 2009 | Penulis: Deni Andriana | Rubrik: Seni Budaya

kabayanSi Kabayan urang Sunda, urang Sunda lain Si Kabayan – itulah istilah yang sering didengungkan mengenai sosok Si Kabayan dan kaitannya dengan orang Sunda.

Disela-sela kunjungan ke Radio Komunitas Pass FM Katapang Kab. Bandung,  KarIn sempat berbincang dengan Aki Dipa, Penyiar Senior dan penanggung jawab siaran budaya lokal Pass FM yang juga Guru Bahasa Sunda SMA di Katapang. Obrolan bergizi pun kemudian berlangsung dan mengarah pada sosok Si Kabayan. Kesimpulan obrolan saat itu, mengenai pendapat beliau bahwa Si Kabayan itu menurutnya sosok yang cerdas dan merupakan sosok yang penuh filosofis.

Aki Dipa mencontohkan, ketika Si Kabayan disuruh turun ke sawah oleh mertuanya pada sebuah petang, Ia tidak mau dengan alasan karena di sawah ada langit (terlihat di genangan air/pantulan). Ia pun mengatakan : “Embung ah sieun, aya langit di jero sawah!” (Tidak mau ah takut, ada langit di dalam sawah).

Jika kita terjemahkan dengan sudut pandang si Kabayan sebagai sosok yang kita kenal  melalui film sebagai seorang pemalas, maka selesailah sudah bahwa dia hanya mencari-cari alasan. Namun, ketika kita maknai lebih dalam, maka kalimat Si Kabayan itu berupa peribahasa atau ungkapan yang mempunyai makna yang dalam.  Ada langit didalam sawah, bisa diartikan bahwa ada yang lebih tinggi dari yang tinggi. Dalamnya sawah yang tergenang air, belum seberapa bila dibandingkan dalamnya langit. Atau, bisa dimaknai bahwa karena sudah menjelang petang maka sudah semestinyalah petani atau yang beraktifitas disawah agar bersiap menyambut shalat magrib.

Atau silahkan simak kisah berikut ini (dari Lima Abad Sastra Sunda, karya Wahyu Wibisana, spk) – Bujanggamanik.wordpress.com :

Suatu hari Si Kabayan jalan-jalan. Menemukan pohon nangka di kebun orang. Nangkanya sudah ada yang matang. Si Kabayan tergoda. Lalu térékél saja naik ke pohon nangka. Nangka yang sudah masak itu dipetik, terus dikupas diatas pohon. Kemudian yang punyanya datang. Si Kabayan ditegur.

“Hoyah, Si Kabayan maling nangka!”
“Tidak, da,” timpal Si Kabayan.
“Itu getahnya di bibir, rapet?”
“Tidak, kan diminyakin,” timpal Si Kabayan lagi.

****

si kabayan sundaDi Wikipedia.Org ada versi tentang siapa Si Kabayan, berikut kutipannya  : “Kabayan merupakan tokoh imajinatif dari Budaya Sunda yang juga telah menjadi tokoh imajinatif masyarakat umum di Indonesia. Polahnya dianggap lucu, polos, tetapi sekaligus cerdas. Cerita-cerita lucu mengenai Kabayan di masyarakat Sunda dituturkan turun temurun secara lisan sejak abad ke-19 sampai sekarang. Seluruh cerita Kabayan juga menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat Sunda yang terus berkembang sesuai zaman. Tokoh Kabayan juga dapat disepadankan dengan tokoh dari Arab, seperti Abunawas atau Nasrudin.”

Ya…. Itulah sekilas sosok Si Kabayan yang fenomenal itu. Sosok yang melekat dengan Suku Sunda. Sosok yang kontroversial, imajinatif dan bisa jadi memang cerdas dan seorang filsuf dari Tatar Sunda. (Deni Andriana)

Info Lainnya

Bookmark and Share

  • Tags: , , , , , ,

    Dapatkan Kiriman Artikel Karawang Info Terbaru Langsung Ke Email Anda (Gratis) - Masukan Alamat Email Anda Pada Kolom di Bawah (Enter your email address) :

    Delivered by FeedBurner

    6 Komentar
    Tinggalkan Komentar »

    1. kabayan memang udah terkenal. sekarang dia bukan cuma jadi cerita rakyat sunda, tapi jugajadi cerita rakyat indonesia. semoga aja tetangga sebelah nggak ngeklaim kabayan juga….

    2. inget kabayan inget nyi eteung… holoh holoh… cewek idaman bgt itu…

      Mammpiirr…

    3. sekarang jarang ada ya dongeng2 asli Indonesia. Padahal kita kaya akan hal itu. Semua diganti dg kisah2 konyol lewat sinetron…:(

    4. hahah..
      bagusan juga film sejarah kyk gini dibandingin sinetron indo ~.~

    5. Kangen pisan uy ma film2 kabayan. Ayo para sineas b’darah sunda bkin donk film kabayan, Lestarikan budaya sunda dan pst fìlm nya bkl laku bgt.

    6. abdi oge kangen pissann euy… kana film kabayan teh…

    Tinggalkan Komentar