Media Online Warga karawang

Pengalaman Naik Angkutan Umum (Angkot) di Karawang

23rd Nov, 2009 | Penulis: Redaksi KarIn | Rubrik: Opini Warga

Oleh : Zae

Angkutan Kota Angkot

Pada awalnya selama tinggal di Karawang, untuk keperluan kemana-mana, saya selalu menggunakan sepeda motor. Tapi sejak awal Oktober lalu alat transportasi satu-satunya yang saya miliki  itu harus dipinjamkan ke kakak ipar, dipakai untuk keperluannya. Ah, tidak apa-apa, sementara ini saya jadinya menggunakan angkutan kota atau angkot sebagai alat transportasi pengganti.

Ada pengalaman tersendiri menggunakan angkutan kota di Karawang selama dua bulan ini. Berangkat dari Cikampek menuju ke tempat kerja di Karawang Kota, harus dilakukan setiap hari, berangkat pagi pulang sore (tak jarang harus sampai malam).

Sebelumnya saya pernah tinggal di Bogor, Surabaya dan Cirebon, disana pun sama naik angkutan umum juga. Tapi yang agak unik di Karawang ini menurut saya adalah :

Pertama, seringnya perang mulut antara penumpang yang turun dengan supir angkot, biasalah masalah tarif. Menurut penumpang bayar Rp. 2.000 itu biasa, dia naik dari Terminal Klari dengan angkot yang “ngetem” (berhenti menunggu penumpang) menuju Kopel Karawang Timur. Menurut sang supir harusnya Rp. 3.000, karena ini angkot ngetem dan dia harus bayar calo di terminal.

Gara-gara calo saja penumpang sudah menambah beban biaya. Kata dosen saya dulu : “High Cost Economy” – kalau tidak salah artinya ekonomi biaya tinggi. Biaya yang dikeluarkan yang tidak perlu atau bisa dihilangkan. Anehnya, memang untuk angkot yang tidak ngetem, istilahnya nyodok dari Klari – Kopel Karawang Timur Rp. 2.000 nggak diprotes supir.

Kedua, saya juga sama dengan penumpang tadi naik dari Terminal Klari, sesuai ketentuan Pemda. Naik angkot yang “ngetem” tadi hingga angkot terisi penuh penumpang, barulah berangkat. Dari keadaan kosong sampai penuh ini waktunya tidak tentu, bisa cepat tapi lebih sering lama.

Menurut saya, ukuran sampai penumpang penuh baru berangkat cuma ada di Karawang. Di dua kota yang pernah saya singgahi, hitungan tunggu penumpang berdasarkan waktu, misalnya 5 menit tunggu penumpang, angkot terdepan langsung berangkat. Mungkin tetap ada calo, tapi uang tipsnya tergantung keadaan penumpang saat berangkat. Jadi, penumpang tidak terlalu lama menunggu. Ya, ada kepastian sebelumnya 5 menit tunggu penumpang. Cara-cara yang merugikan satu pihak lebih baik dihilangkan.

Dalam hati saya, pantas di Karawang sepeda motor dan bis karyawan jadi alternatif utama alat transportasi, terutama untuk karyawan perusahaan swasta yang dituntut tepat waktu tiba di tempat kerja.

Ketiga, selama menggunakan angkot saya selalu membayar dengan uang pecahan Rp. 5.000, anehnya kadang kala ada kembalian Rp. 1.000 dari Klari menuju Cikampek dan sebaliknya, tapi kadangkala juga tidak. Pertanyaan saya, lantas berapa sih ongkos pastinya untuk rute tersebut?

Belum lagi adanya dua trayek untuk jurusan ke Cikampek dari Karawang. Keduanya masuk Terminal Klari. Ah, ruwet kalau itu juga jadi pemikiran saya. Yang penting bagi saya, naik yang manapun asal sampai ke tempat  tujuan tepat waktu dan ongkosnya sesuai peraturan tentunya. Catatan lainnya, mengenai kondisi angkotnya, saya melihat kondisi angkotnya pun banyak sekali dalam kategori tidak layak jalan. Mungkin dari kasus-kasus ini, pihak-pihak terkait sudah harus bikin suatu aturan yang menguntungkan bagi kedua belah pihak. Baik itu menguntungkan bagi penumpang maupun bagi pengusaha angkot. Yang tidak perlu, lebih baik dipangkas saja, tepat sasaran sesuai kebutuhan.

*) Zae : Warga Karawang
(Nama dan Biodata Lengkap ada pada Redaksi,
atas permintaan ybs nama disamarkan menjadi Zae)

Info Lainnya

Bookmark and Share

  • Tags: , , , , , ,

    Dapatkan Kiriman Artikel Karawang Info Terbaru Langsung Ke Email Anda (Gratis) - Masukan Alamat Email Anda Pada Kolom di Bawah (Enter your email address) :

    Delivered by FeedBurner

    7 Komentar
    Tinggalkan Komentar »

    1. Yup…

      saya pengguna angkot di Karawang, sebelum adanya terminal di Klari sebenarnya masalah angkot tidak terlalu masalah, asal nanya dulu ke supirnya apakah sesuai dengan jurusan kita atau ngga? :D yang jadi masalah tarifnya, dari dulu tarif angkot karawang lebih tinggi 500~1000 dari pada angkot didaerah2 yang lain, dan sekarang semenjak ada terminal klari, udah tarifnya menjadi lebih mahal dari yang sebelumnya, sebelumnya ajah udah mahal apalagi sekarang dan ditambah ngetem lagi, suatu kombinasi yang sangat serasi. bagi kami rakyat kecil dan anak2 sekolah kenaikan 1000 rupiah sangat berarti sekali. dan Kami tidak bisa berbuat apa2 lagi. hanya bisa gigit jari.

      saya sangsi dengan akan adanya peraturan2 dari pemerintah yang bisa membuat para penumpang menjadi lebih diperhatikan, banyaknya para pengusaha-pengusaha angkot adalah karyawan (pejabat) di pemerintahan baik di Dishub ataupun di Kepolisian ataupun setidaknya ada koneksi dengan 2 Dept tsb.

      Hidup Calo….biarlah Karawang jadi Kota yang dipenuhi oleh Motor………

    2. siap2 karawang menjadi kota metropolitan seperti kota2 lainnya. dan siap2 pagi dan sore bermacet ria..

    3. Setuju sama komen yang pertama, semenjak ada pengalihan trayek di terminal Klari, naik angkot kadang-kadang bisa jadi masalah yang ga jelas.
      Btw, saya ga ngerti alasan pengalihan trayek itu, biar di kota ngga macet gitu ya? tapi dampaknya biaya transportasi bisa membengkak :(

    4. Hati hati juga jika menggunakan Angkot Trayek 16 Jurusan Klari – Johar sampai Badami, soalnya pas di atas pukul 21.00 di daerah dari mulai Lampu merah Suzuki sampai jembatan Citarum Gempol, apabila naik dari daerah itu mendingan langsung ke arah karawang kota, soalnya kasihan Supir angkot nya pasti dikeroyok dan digebuki sama ojek ojek yang tidak berperikemanusiaan terhadap penumpang. Kalau Ongkosnya sepadan dengan angkot sih tidak masalah, masa untuk Lampu merah sampai Resinda sampai 10 ribu, dan sampai Badami 20 rb. gimana pikiran mereka yah, jika mereka menjadi seperti penumpang angkot…..

      Yang kedua kenapa kejadiannya sama Angkot 63 jurusan Klari – Johar – By pass – Galuh mas – RSUD – Alun alun – Niaga hanya sampai pukul 17.00 sedangkan penumpang yang menuju RSUD itu kan sampai malam hari. dan kejadiannya sama dikejar kejar tukang ojeg… dan kenapa Angkotnya tidak ada yang sampai terminal klari sedangkan di trayek ditulis tujuan Terminal Klari

      Tolong aparat yang berwenang diperhatikan nasib Angkot dan penumpangnya… naek dari ALun alun sampai RSUD untuk Ojeg bisa sampei 8 rebu perak… kebangetan kan ngga habis seliter untuk tujuan segitu.

      Terimakasih

    5. Semenjak ada terminal klari …….
      ongkos semakin mahal …
      apalagi untuk pelajar …… mungkin agak terlalu berat ….

    6. sepertinya bus angkutan pelajar yang sudah ada di tiap kecamatan dipergunakan lagi sebagaimana mestinya…… jangan hanya buat angkutan kemping atau kemah pramuka saja… misalnya dari terminal Cikampek ada yang ke arah By pass karawang… bagaimana rekan rekan?

    7. cong

    Tinggalkan Komentar