Masa Depan Agama, Agama Masa Depan
21st Nov, 2009 | Penulis: Redaksi KarIn | Rubrik: Berita
Karawang (KarIn) - Agama harus menjadi problem solver (pemecah masalah) bukan problem creator (pembuat masalah). Agama harus semakin dekat dengan manusia, kenyataan hidup. Tidak selalu melangit tetapi membumi. Agama harus menentramkan bukan menakutkan. Maka agama itulah yang akan mempunyai masa depan.
Demikian antara lain pesan dari Abdullan Mu’tie, Cendikiawan Muhammadiyah saat mengisi acara seminar dan Dialog Agama-Agama dengan tema “Masa Depan Agama, Agama Masa Depan,” yang diprakarsai oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Karawang, bertempat di Gedug Serbaguna Alam Sari, Rabu (18/11), yang diikuti oleh berbagai macam eleman masyarakat dan keagamaan. Dengan menhadirkan dua pembicara yaitu cendikiawan NU Dr. El. Ngatawi Sastrou dan Cendikiawan Muhammadiyah Dr. H Abdullah Mu’tie.
Seminar dimulai dengan sambutan dari Ketua FKUB Kabupaten Karawang Drs. HE Tajuddin Noor. Dalam sambutannya beliau memaparkan bahwa salah satu tujuan dari seminar ini adalah sebagai pencerahan dan menciptakan kedewasaan dalam beragama. Dan selanjutnya kontribusi apa yang bisa ditampilkan oleh agama-agama untuk sosial kemasyarakatan. Hal senada di sampaikan oleh Kapolres Kabupaten Karawang bahwa kita harus tetap satu dalam masyarakat yang plural. Beda bukan berarti membuat kita berpisah, melainkan saling melengkapi dan mempererat persaudaraan.
Sementara Bupati Karawang yang diwakili oleh Litbang Politmas Karawang menjelaskan bahwa FKUB didirikan pada 2007 yang salah satu tugas dan tujannya adalah sebagai komunikasi antar agama-agama di Karawang.
Acara inti disampaikan oleh Rumadi, Cendikiawan NU yang menggantikan Dr. Ngatawi Sastrou yang berhalangan hadir.
Rumadi menitik beratkan pada tema pertama, yaitu masa depan agama. Dimulai dengan pertanyaan? Bagaimana masa depan agama-agama sekarang.
Dulu agama dikatakan tidak mempunyai masa depan. Karena agama disinyalir sebagai biang kejahatan, biang kekerasan dan konflik. Peristiwa Holocoust dan Perang Salib adalah sebagian dari contoh sejarah suram agama-agama. Sehingga dari sejarah kelam ini muncullah sikap skeptis terhadap agama. Namun demikian agama ternyata tetap eksis sampai sekarang.
Kemudian agama apa yang mempunyai masa depan, Rumadi menjelaskan bahwa Agama yang mempunyai masa depan adalah agama yang menentramkan bukan yang menggelisahkan. Agama yang menentramkan bukan menimbulkan konflik. Agama yang sudah dilucuti anasir-anasir kekerasannya. Setiap umat beragama harus ditumbuhkan sikap saling menghormati, bahwa kita tidak hidup sendiri melainkan kita hidup berbangsa.
Sementra itu Dr. Abdullah Mu’tie menjelaskan bahwa ada lima tantangan yang jika agama bisa menjawab tantangan itu maka agama itulah yang mempunyai masa depan.
Yang pertama adalah tantangan spiritualisme, yaitu agama harus menghadapi atheisme dan agnostik. Di satu sisi agama harus meyakinkan orang-orang yang tidak beragama akan pentingnya spiritualisme dalam kehidupan manusia. Dan disisi lain juga agama harus menghadapi kehausan spiritualisme dari pemeluk agama itu sendiri. Munculnya banyak sekte-sekte dan gerakan baru adalah sebagai gambaran ketidakpuasan terhadap agama yang sudah ada. Itulah tantangan yang harus dihadapi oleh agama-agama yang tentunya bukan solusi yang tepat dengan menghakimi dan mencap salah.
Tantangan kedua adalah tantangan moralitas. Secara global moralitas dunia sudah sedemikian rupa terpuruknya. Baik di dunia maju maupun negara berkembang. Dalam keadaan moral yang terpuruk itu maka agamalah yang akan dipersalahkan karena telah gagal dalam mengakomodir umatnya, gagal dalam membimbing para manusia dan mengisi kekosongan rohani. Ini juga adalah tantangan suatu agama yang dengan itu dia akan memiliki masa depan
Yang ketiga adalah tantangan fundamentalisme. Padangan skeptis terhadap agama sebagai sumber bencana dan konflik memunculkan orang-orang yang frustasi terhadap konflik-konflik yang ada sehingga muncullah benih-benih atheisme. Kemudian ada orang-orang yang terlalu bersemangat dengan agama mereka sehingga munculah sikap eksklusivisme beragama dalam diri mereka yang menolak orang-orang yang di luar mereka. Sehingga lahirlah bentuk-bentuk terorisme agama. Ini juga merupakan tantangan dari agama.
Tantangan keempat adalah tantangan pemiskinan. Banyak orang miskin menjadi semakin miskin. Secara global kekayaan dunia hanya menumpuk di segelintir orang, tidak ada pemerataan kekayaan. Inipun tantangan bagi agama sejauh mana peran agama dalam pemerataan kekayaan dan kesejahteraan umat beragama.
Tantangan selanjutnya adalah tantangan pengrusakan lingkungan. Lagi-lagi karena factor moral. Karena ulah manusia yang selalu ingin lebih, serakah.
“Jadi dari itu semua tantangan itu, kalau agama tidak bisa mengatasinya maka agama akan ditinggalkan,” simpul Abdullah.
Kemudian di akhir acara para peserta dan panitia bersantap bersama. (Khaeruddin Ahmad Jusmansyah)
________________
*) Khaeruddin Ahmad Jusmansyah disapa Jusman
Warga Karawang, hobi berdiskusi dan belajar agama
www.jusman.wordpress.com





Artikel bagus tenan iki… memang agama itu nomor 1.. yang lain? LeWat,,,,hehehe
Agama adalah perkara yang seharusnya mendapatkan prioritas dalam hidup kita sehari-hari.
yg lain boleh di nomor duakan..
tp kalo sudah urusan agama. itu sudah urusan keyakinan kita terhadap Dzat sang pencipta..
tetep jadi nomor 1, tak ada gantinya..
saya masukkan ke daftar lis dofollow ya.. mohon ijin dulu..
Agama adalah nasehat, tanpa agama mau kemana kitaaa…???
Agama nomor satu, kepentingan akherat harus di nomor satukan karena dunia ini hanya sementara saja.
Trims atas infonya smg suksess n tetap semangat.
Btw… Sebagai rasa Syukur, maka saya menganugerahkan Award di bulan Nopember ini kepada sahabat2ku, mohon untuk diterima dan diambil yaaa… Tims
Kutipan dari Abah Anom (pon pes suralaya tasikmalaya) untuk kita renungkan :
… Yen dunya teh kudu dipake pikeun bekel di akherat. Pepelakan supaya meunang hasil di akherat. Sing saha nu teu pepelakan di dunya, di akherat moal barang ala. Ari akherat teh dibagi dua. Nu akhir ceuk urang ayeuna. Melak sampeu tina tangkal nu ngan sajeungkal ari akhirna tangkal jadi sadeupa. Aya keur pelakeun deui sapuluh tangkaleun. Tambah deui pucukna bisa diseupan, daunna di ka embekeun. Ari beutina aya puluhna. Naha kurang kumaha ti Pangeran? Ari “Akhir” mah leuwih alus ti batan “mimiti”. Akherat teh leuwih alus ti batan dunya… (Pangersa Abah Anom)
tapi sekarang agama sudah kehilangan substansinya..
tidak lagi menjadi sisi spiritualitas yang menggerakkan peradaban
agama sudah menjadi alat manipulasi
ya betul kata bro elmoudy.. agama seudah menjadi alat manipulasi, menjadi alat untuk kepentingan tertentu, jauh meninggalkan tujuan utamanya, yaitu menyempurnakan ahklak…
dari dulu agam selalu jadi polemik………..
agama harus selalu menjadi pegangan no wahid..
tak satupun yg dapat menggantikan agama..
Agama emang harus no satu bro…
agama memang n0 1 . . . .
tp akhr2 ini sering jd k0nflik. . mga agama tdak jd pmbuat msalah lg n bsa jd pnutan bnyak orang. . amien. .
Maaf bro you bilang ”Agama sudah kehilangan substansi” .Saya sangat tak sependapat ama ini.jangan kaitkan agama dengan lainnya seperti;Politik,organusasi,atau tingkah laku manusia yg tak normatif.Agama adalah Aqidah/keyaqinan manusia terhadap sang pencipta yg tulusdan tak ada paksaan dari Tuhannya.Tergantung hambanya,apakah DIA Beriman atau tidak sama Khaliq Azza wajalla,namun itu semua kita sebagai hamba nanti di Akhirat akan di mitai pertanggung jawaban apa yg tlh Kita parbuat selama di dunia.Semaga kita semua termasuk orang2 yg beriman.Terima kasih
Maaf jangan sekali kali mendiskreditkan AGAMA terutama agamaku,fenomena yg sekarang terjadi pada kehidupan insan di dunia ini yg sebagin komentator mengatakan macam-macam,boleh saja.namun dari itu semua kita kembalikan ke hakikat mana yg hakiki dari sebuah agama untuk para pemeluknya,renungkanlah sudah sajauh mana kita berpegang teguh&menjalankan syariat agama pada realita tingkah laku kita sehari2 apakah sudah sesuai??? kalau masih ada penyimpangan prilaku ,bukan agama yg kehilangan substansi katkan saja barang kali orang tsb yg tidak konsisten pada aqidahnya. bisa di katakan orang tsb orang FASIQ pada agamanya.mohon maaf kalau my comment ada kekeliruan terutama seaqidah.writed in my live,RIYADH KSA.
kalau ngasih komentar tentang AGAMA tidak ada yg melarang.namun yg jadi subjek agama apa pemeluk agama yg jelas,harus di bedakan.ini bukan ngomentari pada pertandingan sepak bola.