Candi Borobudur Sebuah Cultural Masterpiece
14th Nov, 2009 | Penulis: Deni Andriana | Rubrik: Resensi
Judul Buku : Borobudur
Penulis : Daoed Joesoef
Penerbit : Kompas
Tahun Cetak : Desember 2004
Tebal : 163 Halaman
Pernah berkunjung ke Candi Borobudur? Jika sudah, apa yang Anda dapatkan? Sebuah pemandangan atas maha karya yang luar biasa, pengalaman spiritual atau..? Dan jika belum, maka buku ini akan membantu Anda untuk mengenal salah satu saksi peradaban ini.
Sejarah Indonesia, baik dari masa purba, kerajaan, sampai kemerdekaan tidak bisa dipastikan, selalu mengalami revisi, dan bahkan dalam beberapa kasus atau sebuah periode dimana sama sekali tidak bisa dijelaskan, dan memaksa kata ahistori (kehilangan identitas sejarah) bersemat di sejarah nasional Bangsa Indonesia.
Buku ini menokuskan diri untuk menggali nilai-nilai yang terkandung dan tersemat, dari mulai latar belakang penamaan Candi Borobudur, nilai arkeologis, historis, spiritual, budaya, keilmuan, keindahan, ekonomi dan politik sampai berbagai kisah dan makna simbolis yang bisa kita terjemahkan dari relief dan tanda-tanda yang ada di candi kebanggaan Bangsa Indonesia ini.
Dalam paparannya, buku yang ditulis oleh Daoed Joesoef yang merupakan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kabinet Pembangunan III (1978-1983) di masa Presiden Soeharto ini tidak menjelaskan bagaimana candi ini dibentuk dan bagaimana proses pembangunannya. Karena sampai sekarang, Borobudur memang tidak memiliki dokumen tertulis yang bisa menjelaskan tentang asal muasalnya, sehingga para ahli dibuat harus bekerja lebih keras dan ekstra hati-hati dalam meneliti dan membuat kesimpulan, apalagi ternyata kesimpulan-kesimpulan yang ada sekarang ini mengenai Borobudur hanya berdasarkan usaha untuk mengaitkan berbagai kejadian ataupun jenis huruf prasasti yang ada direlief Borobudur dengan yang ada ditempat lain.
Kesimpulan yang cukup bisa kita jadikan rujukan sampai saat ini, walaupun masih dalam taraf perkiraan adalah bahwa Candi Borobudur dibangun sekitar abad VIII dimasa kerajaan Mataram berkuasa, pada pemerintahan Raja Smaratungga dari Wangsa (dinasti) Sailendra.
Pada periode pertengahan abad VIII dan IX di Jawa tengah yang juga dikenal sebagai Abad Emas Sailendra atau ‘penguasa pegunungan.’ Menurut Dr. Soekmono, Guru besar arkelogi, ahli candi Indonesia dan Direktur Proyek Pemugaran Borobudur, periode ini ditandai dengan semangat membangun luar biasa, dibuktikan dengan banyaknya bangunan candi baik dilereng pegunungan yang semuanya merupakan candi atau bangunan agama Hindu dan yang terletak di dataran-dataran yang terdiri dari candi baik Hindu maupun Budha. Keberadaan candi-candi dari dua agama yang berlainan ini kemudian menimbulkan spekulasi bahwa adanya dua keluarga kerajaan yang memerintah pada periode tersebut, diantaranya Wangsa Sailendra yang beragama Buddha dan Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu. Kedua wangsa ini hidup berdampingan dengan damai terutama dalam menjalankan ibadah keagamaannya, dan ini sekaligus memberikan cermin kepada kita tentang sebuah toleransi dan kerukunan dalam sebuah bangsa.
Dalam kaitannya nilai spiritual yang ada dalam Candi Borobudur, kita secara tidak langsung dituntun melalui buku ini untuk mempelajari bagaimana stuktur bangunan Borobudur dari mulai penempatan patung maupun stupa dengan makna tertentu, terutama dikaitkan dengan ajaran Buddha, karena candi ini diyakini adalah candi Buddha dengan bukti adanya patung Buddha dan relief-relief yang menggambarkan kisah-kisah sang Buddha. Kemudian, pada nilai budaya kita bisa mengetahui bagaimana kehidupan masyarakat Jawa dimasa lalu, hal ini salah satunya bisa dipelajari dari relief dan pahatan-pahatan yang ada, seperti orang yang membajak sawah, perempuan-perempuan yang membawa air dari sumur dan cara-cara rakyat bisa bekerja, makan dan bersantai.
Misteri sang candi terus bertambah seiring dengan pertanyaan-pertannyaan yang dimunculkan sejumlah peneliti yang mencoba mempelajarinya, termasuk kita juga tentunya bila menyaksikan candi ini. Pertanyaan yang mengguncangkan sejumlah ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu terutama saat dilakukannya pemugaran adalah “Siapa yang memimpin pembangunan Borobudur? Siapa arsiteknya?”
Mereka (peneliti waktu itu) yakin bahwa ada seorang seniman atau arsitek bisa juga merangkap sekaligus filosof dan seorang pakar dalam kosmologi Buddhis yang bertanggung jawab sepenuhnya dalam pembangunan sang candi? Pertanyaan itu, kemudian memunculkan nama Gunadharma sebagai tokohnya, dan uniknya tokoh itu muncul dari dongeng yang berkembang dimasyarakat Jawa, bukan atas hasil penelitian, karena memang sulit untuk menemukan bukti.
Namun, setidaknya secara mitos penduduk, Gunadharma profilnya tergambar di garis puncak-puncak pegunungan Manoreh, pegunungan yang membatasi sisi barat dan sisi selatan dataran Kedu dimana candi Borobudur berada. Deretan yang puncak-puncak perbukitan yang ada disisi selatan, bila di pandang dari candi Borobudur, menampilkan tampang sisi wajah (profile) seorang yang sedang terlentang, lekak-lekuk yang mirip hidung, bibir dan dagu. Dan diyakini bahwa orang yang tampak sedang tidur terlentang itu adalah sang Gunadharma yang kini beristirahat dipuncak pegunungan Manoreh sambil mengawasi candi ciptaannya dari abad ke abad. Dan akhirnya penulis buku ini sendiri hanya menyerahkan hasil kajiannya, “kini terserah pada penalaran keilmuan untuk menetapkan apakah cerita rakyat ini merupakan suatu ‘dichtung’ atau memang sebuah ‘wahrheit,” tulisnya.
Borobudur adalah asset nasional bersama peninggalan-peninggalan masa lalu lainnya yang tersebar di berbagai lokasi di Indonesia yang harus dijaga, dilestarikan juga dipelajari bersama. Adanya ledakan beruntun pada januari 1985, yang telah merusak Sembilan stupa berlubang dan sejumlah arca, dua diantara arca-arca yang rusak berleping-keping dan tidak bisa dikembalikan seperti aslinya, apalagi memang ada aturan untuk tidak bisa mengganti dengan tiruan atau duplikatnya, membuktikan bahwa masih ada orang-orang yang tidak menghargai karya nenek moyangnya.
Secara keseluruhan, tulis Daoed Joesoef, teroris telah memasang 11 bahan peledak, namun 2 diantaranya tidak bisa meledak, salah satunya yang telah dipasang dipunggung arca Bima (arca Dhyani Buddha) yang memang dikeramatkan oleh penduduk. Dan alangkah terkejutnya, ternyata pihak yang melakukan perbuatan tercela itu ternyata adalah orang Indonesia sendiri, “Ledakan itu pasti mencoreng muka Ibu Pertiwi yang beradab karena ternyata masih memiliki putra yang biadab.” Tulis Daeod yang terlibat dalam pemugaran candi Borobudur secara besar-besaran pada 1973-1983 tersebut yang saat itu ia menjabat sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan yang bertanggung jawab terhadap pemugaran yang didukung oleh dana UNESCO ini.
Daeod sendiri mengakui seperti yang ia tulis pada bab penutup buku ini, bahwa ia sering mendapatkan ancaman melalui surat kaleng yang mengecam pemugaran candi tersebut karena bertanggung jawab atas ‘pembangunan berhala terbesar di Tanah Air.” Dari gaya bahasa yang dipakai dan ayat-ayat yang diketengahkan, sesunggunya Daeod sendiri tahu dari mana pengirim surat itu berada, namun sayangnya Ia tidak menuliskannya didalam buku ini.
Dan terakhir saya kembali mengutip apa yang Daoed Josoef tulis dipenghujung bukunya untuk kita renungi bersama, “Keberadaan monumen Buddhis ini di bumi Indonesia, bersama-sama dengan candi-candi Hindu, mesjid dan gereja tua serta aneka ragam bangunan (balai) kuno adat, membuktikan betapa nenek moyang kita sebenarnya telah merintis tidak hanya pertumbuhan Universalisme dan Relativisme tetapi juga, bahkan lebih-lebih, Pluralisme.” Lalu, “Artinya mereka berpendapat adalah mungkin bagi kita menanggapi bersama-sama, tanpa memungkiri perbedaan-perbedaan diantara kita para penanggap, adanya suatu universalisme pluralis.”
Sayangnya, Candi Borobudur sekarang sudah dicoret dari 7 keajaiban dunia… Dan lalu, bagaimana dengan candi serta peninggalan masa lampau yang ada di Karawang yakni candi di Batujaya dan Cibuaya yang konon jauh lebih tua dari Borobudur?
Deni Andriana





Candi Borobudur adalah lambang tingginya peradaban bangsa di masa lalu.
Pemugarannya hanyalah semata untuk menjaga bukti sejarah peninggalan nenek moyong dan penghargaan atas tingginya cita rasa dari generasi sekarang.
Saya tidak setuju bila hal itu dianggap sebagai berhala terbesar di tanah air, meskipu digunakan sebagai tmp ibadah bagi umat budha.
wahh burobudur mantabbb tuh,,,
salam kenal ya
tempat yang bagus dan tempat bersesjarah
walaupun candi borobudur dicoret dari 7 keajaiban dunia saya tetap bangga sebagai bangsa indonesia,
karena candi borobudur merupakan saksi sejarah peradaban bangsa indonesia, khususnya peradaban di tanah jawa.