Soe Hok Gie Dalam Ruang “Paradoksial” Sejarah Indonesia
10th Nov, 2009 | Penulis: Redaksi KarIn | Rubrik: Opini Warga
Oleh : Eka Priadi Kusumah
“Memang lebih dari 50% kemajuan masyarakat kita ditebus oleh jiwa yang bersemangat adventure itu, dalam semua lapangan hidup, politik, ekonomi, militer, bahkan semua cabang ilmu.” (Tan Malaka; pengantar Thesis. 10 Juni 1946).
“Manusia adalah mahluk yang secara esensial berkehendak. Dalam perbuatan berkehendaknya keakuan manusia hadir dalam dirinya dan menguasainya. Karena itu pada dasarnya manusia tidak dapat tidak berkehendak.” (Louis Leahy, Manusia Sebuah Misteri; Sintesa Filosofis Tentang Makhluk Paradoksal)
“Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikt orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnyanyang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertidas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunannya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian.” (Soe Hok Gie)
Gie,…. 17 desember 1942-16 Desember 1969
Soe Hok Gie atau yang akrab di sapa Gie, merupakan sosok muda ideal dan anak dari zamannya!, tumbuh dan besar dalam haru biru proses bangkitnya Indonesia, setelah lepas dari belenggu penjajahan dan dimulainya garis hidup dalam berbangsa dan bernegara yang berdaulat dan merdeka berlanjut untuk menentukan arah dan tujuan, melakukan proses pembangunan jati diri secara menyeluruh baik dalam segi bernegara maupun politik secara mandiri.
Dalam diskursus politik paska kemerdekaan sosok Gie merupakan sebuah fenomena yang kerap menjadi batu sandungan bagi eksisnya sebuah kekuasaan!. Dimulai dari demonstrasi anti pemerintahan rezim Orde Lama yang dinilai korup oleh Gie, hingga sentilan dan kritikan yang pedas terhadap rezim Orde Baru pun tidak luput dari aksi Gie yang begitu merajai pada zamannya.
Dia (Gie) adalah sosok intelektual “idealis” yang menyerukan kepada generasinya untuk berkata “tidak” terhadap kondisi yang inconsistent terhadap cita-cita revolusi ’45. Menggelorakan api perjuangan membela kaum proletar yang tersisih secara ekonomi dan politik. Manusia baru adalah generasi yang berani mengatakan “tidak” generasi yang sangat bangga dan sangat sadar akan “sense of mission dan sense of commitment.” (Artikel; Manusia Baru, Agustus 1969).
Selain itu Gie berjuang tanpa pamrih dalam menegakan keadilan dan asas pemerataan ketika ia berhadapan dengan hegemoni yang mainstream “tapi sekarang aku berpikir sampai dimana seorang masih tetap wajar, walau ia sendiri tidak mendapatkan apa-apa. Seseorang mau berkorban buat sesuatu, katakanlah ide-ide agama, politik atau pacarnya. Tapi dapatkah dia berkorban buat tidak apa-apa? Aku sekarang tengah terlibat dalam pemikiran ini. Sangat pesimis, dan hope for nothing, aku tida percaya akan sesuatu kejujuran dari ide-ide yang berkuasa, aku tak percaya tuhan….aku tak tahu motif apa yang ada dalam unconscious mind-ku sendiri. …………memang life for nothing agaknya sudah aku terima sebagai kenyataan. (Catatan Seorang Demonstran, Soe Hok Gie)
Dan bagaimana Gie sangat tidak setuju dengan organisasi mahasiswa dan kepemudaan yang pada saat itu banyak yang terjebak dalam situasi pragmatis “Akhir daripada revolusi ini juga memperlihatkan kemampuan mereka sebagai generasi. Sebagian dari pemimpin-pemimpin KAMI pad akhirnya menjadi…..pencoleng-pencoleng politik, Agen Opsus, makelar pintu kecil atau politikus kelas tiga. Regu-regu KAPPI yang kerjanya memeras penduduk biasa atas nama perjuangan. Mereka adalah korban-korban daripada demoralisasi masyarakatnya. (Catatan Seorang Demonstran, Soe Hok Gie)
Dalam perenungannya Gie, menetapkan dengan konsisten sebuah Quote “nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, Yang kedua di lahirkan tetapi mati muda, dan Yang tersial adalah umur tua, rasa-rasanya memang begitu, bahagialah mereka yang mati muda!”.
Kecaman yang dilontarkan oleh Soe Hok Gie dilandaskan atas pemikiran yang jujur, tentu atas dasar itikad yang baik. Ia tidak selalu benar, tapi Ia selalu jujur dalam bertutur, Ia pun tidak melontarkan kritikan-kritikan dan kecaman-kecamannya tanpa merasa prihatin atas kondisi yang terjadi pada saat itu. Sayang sekali sosok pemuda yang penuh dengan cita-cita ini meninggal pada usia yang realtif muda 27 tahun, dan dalam waktu singkat dalam kehidupannya telah banyak yang diperbuat bagi bangsa dan negaranya!.
Membaca jalan hidup dari sosok gie tentunya tidak terlepas dari beberapa pendekatan diataranya pendekatan secara personal, dari berkas-berkas peninggalannya baik berupa tulisan lepas maupun artikel-artikel yang dimuat di surat kabar, karya ilmiah dan studi kepustakaan lainnya. Dalam tulisan ini penulis mencoba mengangkat dua “karya” Gie, yang pertama skripsi Gie ketika kuliah Di Universitas Indonesia dengan judul “Lentera Merah”(LM), dan buku kumpulan dari catatan harian “Catatan Seorang Demonstran”(CSD) yang diterbitkan oleh LP3ES.
Soe Hok Gie yang lahir pada tanggal 17 desember 1942, adalah seorang warga keturunan dan merupakan generasi yang berada pada periode dimana tatanan politik dan sistem pemerintahan yang relative baru sehingga secara momentum Gie dibesarkan dalam lingkungan yang rentan dari konflik dan kemiskinan secara ekonomi hingga ketimpangan sosial yang nampak dalam realitas kehidupan Gie.
Gie… (Nyanyian Rindu Untuk Mu!)
Masa kecil dan masa remaja Gie penuh dengan gambaran yang sangat berbeda dari kondisi sekarang, dimana pada saat itu ketimpangan sosial terjadi secara sporadis dan menimbulkan ketidakpastian politik dan hukum. Masalah rasial juga menghinggapi kehidupan Gie yang seakan menjadi objek dari aspek status sosial karena dia berdarah keturunan cina, juga Kesewanang-wenangan, pengkhianatan, kepalsuan, dan korupsi adalah hal yang lumrah dan ini menjadi rangsangan buat Gie untuk take in action, bergerak untuk melawan hegemoni sosial, budaya, ekonomi dan politik yang rapuh!, tapuk pemerintahan seolah asing dimata rakyatnya yang tertatih-tatih mengaisi hidupnya yang serba kekurangan dan jatuh dalam kemiskinan, sementara di istana setiap malam mereka berpesta pora di atas penderitaan rakyatnya!. Ini sebuah gambaran dunia paradoksial yang terpampang dalam fragmen sosial pada saat itu.
………..“Aku beserta mu, orang-orang malang”,……(kamis 10 Desember 1959) CSD.
….delapan puluh juta rakyat Indonesia mengacungkan tangan menanti harapan atas revolusi ’45. Dan mereka sia-sia menanti. Mereka hidup melarat dan pemimpin-pemimpin seperti Soekarno hidup mewah. Dan rakyat yang telah berjuang itu telah di khianati oleh pemimpin-pemimpinnya. Kaum intelek takut terhadap kenyataan…….
“Oedipus sudah merendahkan martabat bapaknya, mencabik-cabik ruang paling rahasia bapaknya sendiri sampai akhirnya membunuh bapaknya. Maka sempurnalah sadisme, sempurna anarkisme, sempurna pula absurditas”. (minggu 12 Juni 1960) CSD.
Soe Hok Gie bertolak dari sesuatu yang sekuler sifatnya, menuju titik membangun masyarakat baru yang bermoral, terbuka dan manusiawi.
Sikap terhadap rezim yang berkuasa Soe Hok Gie sebenarnya menolak kekuasaan, hal ini bisa dilacak dalam beberapa tempat dimana dia sendiri mengatakan bahwa perjuangan moral yang terakhir adalah untuk menghabiskan kekuasaan, dengan kata lain kekuasaan adalah antipode dari moralitas. Dengan demikian secara prinsipil dia memilih untuk berada di luar lingkaran kekuasaan.
Soe Hok Gie menyikapi cara menghadapi rezim yang berkuasa sangat tegas sesuai dengan perjalanan intelektualnya dan pengalaman pribadi dan politiknya, terbukti ketika untuk pertama kalinya dia bertemu langsung dengan Soekarno (inpersona), “kesanku hanya satu, aku tidak bisa percaya dia sebagai pemimpin Negara karena dia begitu immoral”,. Dengan prinsif causa efficiens untuk meruntuhkan kekuasaan gie tidak pernah ragu-ragu untuk mengambil jalur kekuasaan untuk mewujudkan keinginan anti kekuasan!.dia merumuskan untuk memecahkan dilemanya tentang kekuasaan itu dengan benar-benar melibatkan dirinya ke dalam suatu pergerakan bawah tanah yang sampai sekarang tidak banyak di ketahui orang.
Gie, dalam sebuat tulisan yang di muat di sebuah surat kabar ibu kota menamakan angkatannya sebagai “manusia-manusia baru” Indonesia, yaitu manusia yang dewasa setelah kemerdekaan:
mereka bukan orang yang takjub melihat kakilangit baru, yang terkagum-kagum kepada barat model Sutan Takdir Alisjahbana.
mereka bukan pemuda “bambu runcing”
mereka adalah generasi yang dididik dalam optimisme setelah penyerahan kedaulatan, dalam mitos- mitos tentang kemerdekaan, harapan besar terhadap “kejayaan Indonesia di masa depan”
mereka adalah generasi yang dibius oleh semangat “progresif revolusioner” model Soekarno.
tetapi terutama generasi inilah yang mengalami kehancuran cita-cita itu semuanya, demoralisasi dalam segala bidang, kehancuran kepercayaan kepada generasi-generasi terdahulu
Masalah! Manusia jenis apa ini? Manusia yang dididik dalam optimisme dan manusia yang mengalami kehancuran baik itu cita-cita maupun kepercayaan. Dengan kata lain sejak lahirnya merekalah yang dilingkupi oleh dunia serba paradoksal.
Soe Hok Gie anggota dari Gerakan Pembaharuan Indonesia sebagai Case Officer (CO5) yg infiltrasi ke kelompok Cendikiawan, GPI berdiri dari Manifesto Prof. Sumitro yang berkehendak menggulingkan pemerintahan Soekarno.
“Ketika aku berbicara dengan Peransi sore tadi, ia juga mengalami apa-apa yang aku alami. Pada kita timbul karagu-raguan yang besar apakah masih ada gunanya belajar, berdiskusi dan lain-lain, sedang rakyat kelaparan di mana-mana, apdanya terjadi rangsangan kuat untuk bertindak, to take in action
Aku katakan padanya bahwa soal-soal ini juga mengganguku beberapa minggu yang lalu, yang penting ialah mendapatkan kekuatan yang perlu, sebab jika kita tidak memelihara kekuatan dan hanya studi terus, kita akan disapu bersih oleh grup lawan. Aku telah menerima prinsip-prinsip Sudjono bahwa kali ini kita harus secara real menyusun kekuatan. Dalam politik tidak ada moral. Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor, lampu-lampu yang kotor. Tapi suatu saat dimana kita tak dapat mengindari diri lagi maka terjunlah. Kadang-kadang saat ini tiba, seperti dalam revolusi dahulu. Dan jika sekiranya saatnya sudah sampai aku akan kelumpur ini. .(CSD)
Penutup…
Sebenarnya tulisan ini bukan untuk di tujukan kepada satu kelompok atau ideologi tertentu, dan juga bukan untuk kepentingan tertentu. Sejatinya tukilan sejarah dalam perjalanannya menjadi citraan yang akan menjadi kritik bagi kita semua dalam menatap jauh kedepan menyongsong fajar baru dalam membangun negeri yang kita cintai bersama. Dan tulisan inipun tentunya jauh dari ranah idealnya seorang Gie, yang begitu kompleks dan inheren dengan kondisi pada masanya. Tetapi dengan keterbatasan ini tentunya akan banyak masukan dan kritik sehingga sosok “idealis” intelektual dari Soe Hok Gie akan mampu memberikan seberkas titik cerah dalam memperjuangkan hak-hak kaum proletar. Di masa dimana jelaga idealisme sepi oleh auman pemuda yang gigih menggelorakan sisi marjinalnya kehidupan yang terlindas oleh sapuan angin globalisasi yang memporakporandakan rasa perikemanusiaan.
“Sekarang kebanyakan intelektual telah menjadi teknokrat alias sekrup-sekrup dalam roda pemerinyahan…..ternyatalah, pemerintah memang berusaha memagar dirinya dengan argumentasi intelektual”.
“Karena itu kita kaum intelektual perlu membina suatu moral movement yang radikal dinamis dan puritan dikalangan intelektual bebas (seniman, mahasiswa, dosen dan para ahli yang mempunyai sasaran control, pemerintah (sic)…..”.(CSD)
Didepan mata kita kini masih begitu banyak hal yang belum purna, dan tidak akan purna ketika kita masih berdiam tertegun, terkesima oleh tiupan angin globalisasi. Kewajiban telah menanti untuk kita tunaikan dalam membangun negeri. Bersatu dalam semangat “betanah air yang satu, bertumpah darah yang satu, dan berbahasa yang satu, INDONESIA”.
Untuk Pemuda dan Pemudi Indonesia yang kini sedang berjuang
Untuk Pemuda dan Pemudi Indonesia yang telah gugur dalam perjuangannya sebagai pahlawan
Untuk Hari Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan
*) Eka Priadi Kusumah :
*) Warga Karawang, Pegiat dan Pemerhati Seni
www.forumkajiansenikarawang.wordpress.com











Tempat ngumpul Facebook’ers Indonesia.
Forum bebas bicara menyampaikan ungkapan cinta, keluh kesah, harapan, kritik, dan saran untuk bangsa ini.
http://www.facebook.com/pages/Republic-of-Indonesia/170068143639
soe hok gie adalah sosok manusia yag sanggat tegar dalam pendiriannya,,,,
memperjuangkan segala apa yang jadi jalan pikirannya,,,,
biodata bisa di lihat http://www.mandalawangi89.co.cc