TKI Kaburan : Antara Deportasi dan Kehormatan
12th Oct, 2009 | Penulis: Redaksi KarIn | Rubrik: Opini WargaOleh : Sopyan Eli
Hidup sebagai seorang pelarian bukanlah sebuah pilihan hidup yang tepat, terlebih jika kita berada di Negeri orang. Namun, sepertinya pilihan itu merupakan pilihan yang tepat bagi sebagian orang yang memutuskan untuk menjadi seorang pelarian.
Kingdom 0f Saudi Arabia (Kerajaan Arab Saudi) adalah salah satu Negara tujuan para TKI mencari nafkah. Dengan bermodalkan keahlian seadanya dan tekad yang besar, mereka berangkat ke Saudi dengan harapan bisa merubah perekonomian keluarga mereka. TKI (Tenaga Kerja Indonesia) atau TKW (Tenaga Kerja Wanita) ini banyak bekerja pada sektor non formal, seperti menjadi pembantu rumah tangga, supir, haris (penjaga rumah), pelayan restoran dan sebagainya.
Pada sektor ini, tanggung jawab para pekerja ada di tangan kafil/majikan (atau orang yang menggaji mereka) dan bukan perusahaan atau pemerintah melainkan perorangan. Tidak sedikit kasus-yang terjadi antara majikan dan pekerja, mulai dari penundaan pembayaran upah, perlakuan kasar hingga pelecehan seksual, terutama ini di alami oleh para TKW.
Kasus-kasus tersebut pada akhirnya menyebabkan mereka berniat untuk lari atau menjadi kaburan. Walaupun mereka harus mengambil resiko deportasi atau briman (di penjara). Banyak di antara mereka yang di penjarakan terlebih dahulu sebelum di deportasi, karena peraturan di Saudi yang menyatakan bahwa apabila seseorang melarikan diri sebelum masa kontrak selesai (2 tahun), dan kemudian tertangkap namun masih dalam masa kontrak, maka seseorang itu harus di penjarakan sampai masa kontrak selesai baru kemudian dideportasi. Sungguh hal yang sangat beresiko, akan tetapi memang tak ada pilihan lain demi mempertahankan kehormatan. Namun tidak sedikit pula yang melarikan diri dari majikan atau tempat kerjanya demi mencari penghasilan yang lebih.
Di Jeddah, saya banyak sekali menemukan orang kaburan semacam ini. Hal ini, mungkin terjadi karena Jeddah adalah salah satu kota terbesar di Saudi dan menjanjikan banyak pekerjaan bagi orang kaburan. Selain itu, faktor lainnya adalah karena terdapat tempat pemulangan/deportasi (tarhil) yang memang hanya terdapat di Jeddah (kandara).
Di Jeddah, orang-orang kaburan ini tinggal di sebuah rumah yang dihuni oleh banyak orang yang sering diistilahkan dengan sebutan “penampungan.” Di dalam 1 kamar bisa di huni oleh 8-10 orang. Bisa dibayangkan, bagaimana sesaknya tinggal disebuah penampuangan. Tapi itu relatif, karena ada juga penampungan yang dihuni oleh beberapa orang, dengan syarat harus membayar sewa rumah yang lebih mahal.
Aktivitas TKI Kaburan pun tak jauh beda dengan TKI resmi. Mereka bekerja, bersosialisasi dengan yang lain atau bahkan berkeluarga. Tidak sedikit beberapa teman saya yang kaburan memiliki anak padahal ini sungguh sangat beresiko. Betapa tidak, setiap registrasi rumah sakit atau klinik harus disertakan iqomah (kartu domisili). Bayangkan, bagaimana kalau anak atau istrinya sakit! Namun, dengan mudah mereka menjawab : “hidup itu sudah ada yang ngatur.”
Semua aktiitas yang mereka lakukan selalu disertai rasa was-was dan kepasrahan, karena setiap saat mereka bisa saja ditangkap oleh petugas imigrasi atau kepolisian. Saya pun sempat terkejut mendengar bahwa barang siapa jalan atau sedang berada dengan orang kaburan akan di tangkap dan di deportasi sekalipun itu orang resmi. Padahal, banyak teman saya yang menjadi orang kaburan, sungguh sangat disesalkan namun tetap berusaha menjaga tali silaturahmi sesama anak bangsa.
Orang kaburan bukanlah penjahat, melainkan orang-orang yang berjuang demi hidup yang lebih baik, siapapun tak ada yang mau menjadi orang kaburan di negari orang lain, namun itu pilihan yang mungkin terbaik daripada harus mati di negeri sendiri karena kelaparan.
Ya ALLAH terima kasih atas semua nikmat yang telah Engkau berikan sehingga aku merasa lebih beruntung di banding mereka. Untuk sahabat teruslah bejuang meraih hidup yang lebih baik dan tetaplah berdo’a semoga Allah selalu menyertai kita, amin.
*) Warga Pancawati Karawang , Kini tinggal dan Bekerja di Jeddah Arab Saudi
Facebook : http://www.facebook.com/profile.php?id=1416279539
Blog : www.teupira.blogspot.com





kasihan mereka ya sob banyak yang di siksa
Wah … saya ikut prihatin dengan keadaan bangsa kita disana.
Yang legal aja masih bisa disiksa, apalagi yg ilegal?
Mudah2an mereka selalu dilindungi ama yg diatas, Amien
kasihan bener sob nasibnya orang kaburan……….semogo pemerintah kita lebih bijak sana sob dalam urusan ini thanks
ya itulah Indonesia ini sebenarnya negeri yg subur dan banyak yg bisa kita buat untuk di perjual – belikan, entah dari kesenian, wisata, kuliner yg masih banyak dunia luar belum tau… so kenapa harus jauh2 ke negeri org yg belum tentu kita sejahtera….
luar biasa
blogger sekarang emang keren2
udah tulisannya keren
blognya keren
alexanya keren
orangnya pasti keren juga
hihihih
saluuttssss…
saya juga ikut prihatin semoga Allah memberi kesabaran
pdahal di indonesia jg banyak kerjaan, tapi gajihnya yg rendah…menurut saya mereka berusaha untuk mencari penghasilan yang besar
banyak juga yg disiksa, malahan ada yg sampai tewas…
semua ada resiko yang harus ditanggung…..kenapa mesti keluar kalau dirumah sendiri ada..
ane tertarik pd kt ‘hidup ini sudah ada yg ngatur’ ; jwban yg aneh, bukankah Tuhan tidak mengubah nasib seseorang, kcuali dia sendiri yg mengubahnya? thx 4 the visit sobat
begitulah nasib jadi orang indonesia dimana2 jadi kuli
Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas komentar teman2 sekalian.
Memang betul Negara kita adalah negara kaya, tapi apakah sudah di kehidupan rakyatnya paling tidak menyediakan lapangan kerja untuk rakyatnya. Coba saja datangi DISNAKER berapa banyak calon pekerja yang sedang mencari lowongan yang setiap harinya selalu bertambah. Belum lagi lulusan baru yang setiap tahunnya selalu menunjukan angka yang signifikan membuat kesempatan kerja semakin berkurang. Kesempatan ini yang di manfaatkan oleh sponsor untuk mengajak orang bekerja di luar negeri. Dengan iming2 gaji yang menggiurkan, juga tanpa menggunakan uang jaminan para sponsor ini berhasil menarik para calon TKI/TKW. Dan kebanyakan para TKI/TKW ini tidak tahu dimana mereka akan di pekerjakan.
Pada dasar kita tidak perlu menyalahkan para TKI, karena niat mereka untuk bekerja di luar negeri tidaklah salah. Namun perlu di jembatani dan di beri pengetahuan untuk bisa bekerja di luar negeri, serta memantau warganya yang bekerja di luar negeri. Disinilah peran serta pemerintah khususnya pemerintah daerah, sehingga bila terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan akan terkontrol. Yang lebih penting adalah menertibkan PJTKI dan sponsor yang nakal yang hanya ingin mendapatkan keuntungan dari keberangkatan para TKI.
benar sekali sob, Indonesia tidak mampu menyediakan lapangan kerja buat mereka sehingga mereka hrs bekerja di negri orang, dan hrs mendapatkan siksaan dari majikan mereka.. sungguh ironis sekali negara Indonesia yang kaya raya tapi rakyatnya banyak yg hidupnya sengsara..
Salam hormat untuk seamua pengakse weblog ini,perkenankan saya untuk menyampaikan my comment dgn Artikel diatas.saya jg seorang TKI sampai sekarang masih kerja di Arab Saudi ,sehabis di PHK PT.Gajah Tunggal dan sebelumnya ex karyawan petrochem chemical Tanggerang th 1998. asal saya kec.Cilamaya kulon.penulis artikel memang benar apa yg ada dalam isi artikelnya saya akui&di alami sendiri realita semua itu,tidak banyak sih presentasenya TKI ILEGAL di bandigkan yg Resmi cuman topiknya aja mengambil demikian.kaburan identik dgn sifat kurang baik/terpaksa, hanya gara2 sebagian TKI kabur/kena masalah,berbuat abnormal semua seakan2 kebawa,sepertinya istilah TKI Di mata orang indonesia,adalah kaum terpinggirkan,suram dll dsb. maaf sobat dari sekian banyak jumlah TKI di Arab Saudi paling cuman 5% yg yg kena kasus ,kalau mau menyikapi dgn proporsional biar semua pihak mau menerima.apa sih enaknya jd TKI??? I am Sorry if my comment don,t be at your heart.
begitulah nasib jadi orang indonesia dimana2 jadi kuli saya pun merasakan nya dengan penuh penyesalan menjadi tki apa lagi jadi seorang tki kaburan. saran saya kesabaran itu jalan yang utama terimakasih salam saya Iman NR DARI MAJALENGKA .
saya sangat cinta tanah air ; dansaya sangat berterimakasih kepada alloh dan kepada siapa saja yang suka menolong orang ; kami sangaat membutukan pertolongan anda bantulah kami ,kami memohon kepada anda. terimakasih salam kami tki kaburan yang malang Iman nr majalengka
Kang kanta : ide awal penulisan artikel ini adalah ketika saya merasa terpanggil atas nasib saudara2 kita yang berstatus TKI ilegal dan mencoba mengangkatnya ke permukaan sehingga perhatian bagi semua khususnya pemerintah. Saya pun tidak memungkiri bahwa banyak orang yang yang sukses dengan berstatus TKI ( mudah2an saya dan kang kanta salah satunya…amin ). Thx atas comment nya.
Kang Iman : Tetep semangad kang menjadi TKI kaburan bukan halang untuk menjadi succes. Salam dari putra karawang.
jangan berkecil hati …negara kita itu negara yang besar…negara yang subur makmur loh jinawi…negara jamrud katulistiwa….mempunyai peradaban yang tinggi sejak dahulu,yang tidak di miliki oleh negara manapun….lha kita di sini itu_di saudi red itu hanya untuk mendengarkan,melihat serta merasakan bahwa semua predikat di negara kita itu tadi adalah memang benar adanya…….lantas di dalam negara yang begitu besarnya_dalam artian luas,tentu penduduknya juga memiliki potensi yang luar biasa,memiliki suatu mekanisme ilmu yang luar biasa pula,yang mana tidak di miliki oleh orang manapun termasuk orang saudi sendiri…dalam pada itu semua…bangkitkan akalbudi dan berikan pemahaman yang lebih pada mereka_tentang eksistensi kita,yakni seorang khalifah yang memiliki peradaban yang tinggi yang madani……
tentang sebuah predikat itu bagi kami bukanlah tujuan utama…yang menjadi tujuan utama adalah belajar,sinau dan sinau tentang berbagai hal.Sehingga pada nantinya akan semakin mendewasakan kita..bukan malah semakin kanakkanakan_
mau jadi tukang becak,sopir,pramu wisma atau apapun itu monggo….tidak ada rendahnya….
yang menjadi patokan tinggi rendah itu adalah sejauh mana kita memaknai dan memahami tentang kepribadian kita sebagai mester pis nya TUHAN yaitu manusia yang dalam kontek sebagus bagusnya ciptaan….
Hanya satu kendalanya adalah semua ini adalah misteri illahi
semua tulisan Sofyan Eli memang benar adanya, bahkan keadaan nya jauh lebih parah dari yang ditulis disana, para kaburan disana terutawa TKW dengan terpaksa kabur karena mendapat perlakuan tidak manusiawi, dan pelecehan seksual dari majikan atau keluarganya, mereka ada yang nekad loncat dari lantai 3 dan lari demi menjaga kehormatannya, bahkan ketika tertangkap mereka kadang mendapatkan perlakuan lebih tidak manusiawi layaknya binatang, dan apabila mereka tidak beruntung terpaksa menggelandang di kolong jembatan, dan ditangkap petugas lalu dijebloskan ke penjara (briman) sampai dideportasi,
Walaupun ada kedutaan Indonesia disana mereka enggan mencari perlindungan pada mereka karena hanya jadi bahan olokan, atau bahkan mendapat perlakuan yang sama . entah apa yang terjadi di sana ? sudah sangat banyak kasus yang terjadi tetapi belum ada upaya yang real dari pemerintah kita memperjuangkan nasib bangsanya yang diinjak2 martabatnya di negeri orang.
Terima kasih atas semua tanggapan yang teman2 sampaikan, mudah-mudahan ada pihak yang berwenang yang membaca ini agar menjadi perhatian dan mencarikan jalan keluar bagi masalah ini.