Media Online Warga karawang

Sang Pengrajin Pupuk Ramah Lingkungan Dari Tepian Situ Gempol

19th Nov, 2008 | Penulis: Deni Andriana | Rubrik: Inspirasi Warga

Karawang Barat (KarIn) – Jika Anda berkunjung ke Situ Gempol di Tanjungpura, Karawang Barat, maka mampirlah ke rumah seorang warga yang berada di tepian situ. Selain akan mendapatkan cerita menarik seputar situ, Anda pun sewaktu pulang bisa membawa oleh-oleh pupuk organik untuk tanaman hias Anda di rumah, dengan membeli langsung dari si penghuni rumah. Siapakah sebenarnya warga tersebut?

Sayadih (67 tahun), itulah nama warga yang dimaksud. Ia adalah salah seorang warga yang tidak hanya tinggal di tepi Situ Gempol, tapi juga terbilang kreatif dalam memanfaatkan potensi yang ada di situ yang kaya akan ikan tawar ini. Ia adalah pengrajin atau pembuat pupuk organik yang biasa digunakan untuk menyuburkan tanaman hias.

“Ada yang dari akar tanaman pakis, ada juga dari eceng gondok,” terang Sayadih yang ditemani istri dan cucunya ketika ditemui KarIn di kediamannya.

Akar pohon pakis dan eceng gondok yang umumnya hidup mengambang di situ, danau ataupun sungai adalah bahan utama pupuk yang dibuat oleh Sayadih. Ia memanfaatkan terutama banyaknya eceng gondok yang hidup di permukaan Situ Gempol untuk membuat pupuk organik.

“Kalau eceng sih banyak Jang, tapi akar pakis sekarang yang susah, harus ngambil dari dasar tepian situ, pohonnya yang sudah nggak ada lagi sekarang disini,” jelas Sayadih dengan bahasa sunda logat Karawangnya yang khas.

Pupuk organik dengan bahan akar pakis dan eceng ini, dibuat dengan cara relatif mudah yaitu dengan mengeringkan akar atau eceng di halaman rumah, sampai membusuk, kemudian setelah itu mengaduk-aduknya dengan cangkul hingga hancur, dan jadilah pupuk organik yang siap pakai. Cara yang sederhana itu tentunya pada prakteknya memerlukan ketelatenan dan keterampilan tersendiri, dan Sayadih tentunya juga sudah menguasainya.

Memproduksi pupuk organik dengan bahan akar pakis dan eceng sudah dilakoni Sayadih sejak lama, dan hingga kini telah menjadi mata pencahariannya. Maka, Ia pun sangat menyayangkan jika nantinya situ ini dialih fungsikan menjadi tempat wisata oleh Pemkab Karawang.

Mengenai usaha rumahannya ini, ayah dari 6 anak yang semuanya sudah berumah tangga ini mengungkapkan, bahwa dulu para tetangganya tidak mengetahui usahanya ini, tapi seiring waktu akhirnya banyak pula yang ikut menekuni usaha ini, namun rata-rata kebanyakan tidak terlalu serius seperti dirinya, yang dalam produksinya dibantu sang istri tercintanya tersebut.

Pupuk buatan Sayadih ini, dipasarkan di beberapa pangkalan atau tempat penjual tanaman hias di banyak daerah di Karawang. Ia menjual pupuknya kepada para pedagang eceran yang langsung datang ke rumahnya, baik dalam kemasan karung maupun plastik dengan harga yang bervariasi. Untuk satu kantong plastik, Ia menjual dengan harga Rp. 1.250, – sedangkan untuk kemasan karung, tergantung dengan kapasitas karungnya.

Pengusaha yang ramah lingkungan, itulah mungkin label yang tepat diberikan kepada Sayadih, selain karena pupuk produksinya adalah pupuk organik yang tidak mengandung bahan kimia, dengan memanfaatkan eceng gondok yang ada dan bertebaran di permukaan situ, Ia pun sekaligus menjadi petugas kebersihan situ secara tidak resmi. Dengan Ia mengambil eceng dari situ, maka Ia pun sekaligus membersihkan situ dari eceng tersebut. Ya, eceng gondok, tumbuhan merambat yang hidup di air dan seringkali menjadi penghambat aliran sungai terutama yang ada di muara. Dan, Eceng jugalah yang disinyalir menjadi salah satu penyebab banjir yang rutin melanda berbagai kawasan di Karawang bagian utara di musim hujan, ataupun membuat banyak sawah kekurangan pasokan air akibat terhambatnya laju air.

Itulah sosok Sayadih, pengusaha kecil yang hidup diantara dua sumber air, dimana di bagian timur adalah Situ Gempol, yang Ia jaga kebersihannya dari gangguan eceng, dan di bagian barat adalah Sungai Citarum, yang sudah tercemar oleh limbah industri besar milik para pengusaha kelas kakap yang beroperasi di Karawang. (Deni Andriana)

Info Lainnya

Bookmark and Share

  • Tags: , , , , ,

    Dapatkan Kiriman Artikel Karawang Info Terbaru Langsung Ke Email Anda (Gratis) - Masukan Alamat Email Anda Pada Kolom di Bawah (Enter your email address) :

    Delivered by FeedBurner

    5 Komentar
    Tinggalkan Komentar »

    1. Walaah kalo gitu harus dibikin hak patennya tuuh,.. soalnya kerajinan kaya gitu perlu dilestarikan, uniiik bangeet sekaligus bisa buka lowongan pekerjaan kan???

    2. iya bos.. sayang beliau belum punya hak paten.. sama dengan pengrajin kompor yg didesa Kiara, cilamaya kulon.. mungkin sudah saatnya ada yg mau bantu mereka bwt mendapatkan hak paten.. (soalnya setahu saya mereka belum mengerti dengan hal tersebut)…

    3. luar biasa……dari sampah jadi uang karena kepedulian terhadap lingkungan….good luck buat pa sayadiah.

      bengadventurez & warung luhur
      tanjakan panjang 99

    4. [...] Eceng Gondok yang pada mulanya hanya dikenal sebagai tanaman gulma air, karena pertumbuhannya yang begitu cepat sehingga menutupi permukaan air, dan menimbulkan dampak pada menurunnya produksi di sektor perikanan juga menimbulkan permasalahan lingkungan lainnya, seperti cepatnya penguapan perairan. Namun, dilain sisi Eceng Gondok juga memberikan nilai tambah yang cukup prospektif. Seperti yang dilakukan Bapak Sayadih (Baca KarIn : Sang Pengrajin Pupuk Ramah Lingkungan Dari Tepian Situ Gempol). [...]

    5. [...] dengan keanekaragaman jenisnya yang cukup tinggi, diantaranya pohon Rasamala, Puspa, Kibanen dan Pakis, jenis-jenis pisang dan bambu,” terang Iyan [...]

    Tinggalkan Komentar