Media Online Warga karawang

Mengkaji Ulang Lagu Nasional

19th Aug, 2009 | Penulis: Deni Andriana | Rubrik: Seni Budaya

Lagu NasionalBerikut ini adalah daftar lagu-lagu nasional Indonesia termasuk di dalamnya adalah lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, diantaranya : Api Kemerdekaan, Bagimu Negri, Bangun Pemuda Pemudi, Bendera Merah Putih, Berkibarlah Benderaku, Bhinneka Tunggal Ika, Dari Sabang Sampai Merauke, Garuda Pancasila, Halo-Halo Bandung, Hari Merdeka, Ibu Kita Kartini, Indonesia Pusaka, Indonesia Raya, Indonesia Tetap Merdeka, Maju Tak Gentar, Rayuan Pulau Kelapa, Mars Bambu Runcing, Mars Harapan Bangsa, Mars Pancasila, Satu Nusa Satu Bangsa, Syukur, Tanah Airku, Teguh Kukuh Berlapis Baja.

Silahkan tanyakan pada diri sendiri, apakah Anda hafal semua lagu-lagu diatas, atau berapa banyak yang Anda hafal? Sebagai Warga Negara Indonesia?

Berkaca pada pengalaman pribadi. Lagu-lagu nasional ini saya pelajari saat duduk dibangku SD, juga ketika SMP, khususnya ketika aktif di gerakan pramuka. Setelah itu, telinga ini lebih akrab dengan lagu-lagu ‘bukan nasional.’

Lagu nasional? Bagaimana sebuah lagu bisa menjadi lagu nasional? – Menurut pemahaman yang saya dapat, kesemua lagu nasional yang sekarang diakui adalah lagu-lagu yang diciptakan dan kumandangkan pada era pra dan pasca sekitar momen kemerdekaan. Lagu-lagu tersebut rata-rata mengandung semangat berjuang, ajakan untuk bersyukur serta seruan atas persatuan dan kesatuan. Lagu-lagu ini kemudian dipatenkan oleh pemerintah sebagaimana dipatenkannya pahlawan nasional yang dijadikan figur dan suri tauladan bangsa.

Bagaimana dengan era sekarang? Era dimana musik komersil lebih mendominasi telinga masyarakat Indonesia. Dimana musik sudah menjadi industri. Saat nilai ideologis dalam lirik maupun nada tidak menjadi persoalan penting ketimbang selera pasar yang pada hekekatnya dibentuk sendiri oleh industri itu sendiri. Pasar bukan tercipta dari seluruh anggota didalamnya, tapi lebih dominan disetting oleh industri rekaman.

Ada yang salah? Tentu saja tidak, karena musik adalah hasil seni. Kita harus sepakat bahwa kita tidak punya hak dengan alasan yang adil untuk menghakimi musisi atau seniman, dengan mengatakan karya A atau B jelek dan buruk. Semuanya adalah kembali pada selera dan instuisi atau interprestasi masing-masing.

Saya bisa mengatakan bahwa lagu-lagu komersil yang sekarang ada lebih populer dibandingkan lagu-lagu nasional. Sebagai bukti kecilnya, yang sebenarnya tidak bisa untuk digeneralisasikan adalah pada adik laki-laki saya yang saat ini duduk dibangku kelas VI Sekolah Dasar, yang terletak 20 km dari pusat kota Karawang. – lihat pada foto!

Ia dan teman-temannya lebih hafal melantunkan lirik lagu Surgamu-nya Ungu ketimbang lagu Syukur. Lebih bisa memainkan nada lagu Jujur-nya Radja ketimbang memainkan kord Bagimu Negeri. Dan lebih bersemangat dengan lagu Jengah-nya Pass Band ketimbang Maju Tak Gentar. Lagu Indonesia Raya, tentu mereka hafal karena ini lagu wajib dalam upacara bendera anak sekolahan di hari senin pagi.

Terlintas kemudian dalam benak saya. Jika memang lagu-lagu nasional itu masih dianggap penting sebagai alat untuk membangun semangat nasionalisme dan patriotisme, maka sudah waktunya diadakan pengkajian ulang dengan menata ataupun mempopulerkan kembali, bahkan menambah lagu-lagu baru yang diambil dari musisi-musisi yang populer saat ini.

Dan yang perlu dipertimbangkan, masyarakat kita sudah terlanjur menjadi masyarakat yang didominasi kaum instan yang selalu tergantung pada figur dan romantisme sesaat (perlu dibuktikan lebih jauh), maka dari itu lagu dan musisi yang dipilih pun haruslah yang bisa mengendalikan semua itu, tampaknya Iwan fals dan Slank yang punya penggemar fanatik adalah yang tepat untuk mengawalnya, selain Krisdayanti ataupun Gigi, Nidji, Cokelat, Ungu, Dewa, dll.

Bisa saja lagu Bendera ciptaan Eross S07 yang dinyanyikan Cokelat dimasukan menjadi lagu nasional menemani lagu Bendera Merah Putih dan Berkibarlah Benderaku. Atau memasukan lagu Bendera Setengah Tiang dari Slank untuk lagu berbela sungkawa dan lagu Mars Slankers untuk membangun semangat kerja keras. Lalu lagu-lagu Iwan Fals seperti Oemar Bakrie untuk hymne guru.

Adalah sebuah modal penting untuk proses pembangunan, masyarakat terlebih dahulu dibangunkan pada wilayah emosinya, sebelum secara fisik bergerak. Kita bisa melihat begitu dasyatnya lagu Indonesia Raya berkumandang di Stadion Gelora Bung Karno Senayan disaat Timnas Indonesia bermain di ajang Piala Asia. Ditempat lain kita pun bisa simak bagaimana gairah penonton band-band underground berjingkrak ria penuh semangat. Lihat Slankers atau OI-nya Iwan Fals rela berdesakan dan bersama-sama idolanya bernyanyi bahkan berteriak Piss (damai). Itulah salah satu bukti bahwa lagu membangunkan spirit dan roh persatuan dan kesatuan bangsa.

Deni Andriana

Info Lainnya

Bookmark and Share

  • Tags: , , , ,

    Dapatkan Kiriman Artikel Karawang Info Terbaru Langsung Ke Email Anda (Gratis) - Masukan Alamat Email Anda Pada Kolom di Bawah (Enter your email address) :

    Delivered by FeedBurner

    Tinggalkan Komentar