Published On: Tue, Aug 18th, 2009

Lingkaran Bulat Itu Bernama Prostitusi

Oleh : Mareta Kusumaningrum

gersang pohonProstitusi, sebuah bisnis yang identik dengan warna hitam ini ternyata merupakan salah satu bisnis yang mendatangkan uang dengan sangat cepat. Tak perlu modal banyak, hanya beberapa tubuh  yang secara profesional bersedia untuk dibisniskan. Karena itulah sampai kapanpun bisnis ini tidak akan menemui masa masa sulit.

Disini saya ingin sedikit menulis wacana yang ada di pikiran saya, tentang para perempuan yang  memilih bisnis ini untuk menggantungkan hidupnya. Pilihan yang sulit pasti. Mengapa…? Karena budaya masyarakat kita belum mengakui profesi ini sebagai salah satu pekerjaan yang terhormat. Yah itulah masyarakat selalu menyandarkan segala aspek kehidupannya pada takaran nilai. Walaupun sebenernya nilai yang terbentuk adalah milik yang berkuasa.

Saya kurang setuju dengan hal ini. Buat saya masyarakat kita terlalu naïf. Berbicara A sebenarnya yang ada di otaknya adalah B. Mengapa saya bilang demikian…?? Lihat saja, kalau memang prostitusi itu bisnis hitam, mengapa bisnis ini makin meluas…?? Tentu saja karena kebutuhan konsumen. Nah siapa konsumennya…?? Kalau bukan para pemilik nilai.

Sedangkan bagaimana dengan Pekerja Seks Komersil (PSK)-nya sendiri….?? Yah mereka tetap bekerja dengan segala tekanan budaya di sekitarnya. Terdiskriminasi dan tidak pernah mendapatkan haknya sebagaimana mestinya. Saya bisa mengatakan mereka adalah salah satu dari korban buruk sistem yang bersembunyi di balik selubung moral.

Yah itulah prostitusi. Saya mengibaratkannya seperti WC umum. Walaupun banyak yang berkoar-koar kotor dan bau. Tapi tetap saja dimanapun keberadaannya dibutuhkan.

*) Aktivis Perempuan “Feminisme’,
Lahir di Yogyakarta dan Kini bekerja di Jakarta
www.womeninfreedom.multiply.com

Silahkan Berkomentar Dengan Akun Facebook Anda!

comments

Displaying 4 Comments
Have Your Say
  1. sera says:

    hmmm… gmn yah… drdulu smpai sekarang, ini ladang kotor tp subur dlm hasil…

  2. purno87 says:

    salah satu pemasukan daerah yang kurang di selidiki

  3. javawae says:

    Ehem…ehem…PSK, tiap orang punya sudut pandang masing-masing. Dan sudut pandang manusia terbentuk dari banyak faktor. Faktor internal dan juga faktor eksternal. Oleh karena itulah dalam hidup perlu suatu undang-undang yang berisi tentang apa yang boleh dan yang tidak boleh dan juga berisi hadiah dan juga hukuman.
    Undang-undang itu juga sebagai batasan mana yang baik dan juga mana yang buruk serta mana yang ada di keduanya. Jadi dalam memandang suatu masalah, lihat dulu batasannya! Jangan cuman berdasarkan asumsi saya atau berdasrkan tentang HAM atau berdasarkan profesi atau berdsarkan lain-lain yang tidak jelas dasarnya. Lihat Undang-Undang biar tau batasannya. Sebab kalu tidak tau batasan maka akan mudah terkecoh dengan keburukan yang umum. Jadi sesuatu yang umum itu belum tentu baik dan kebaikan tidak selalu dipandang umum.

    Jadi kalau memandang baik dan buruk suatu kejadian atau suatu gejala sosial maka harus menggunakan batasan. Bukan cuman dari banyaknya orang yang melakukan dan manfaat yang termat sangat sedikit, manfaat dunia.

    Hanya suatu pandangan.

    Javawae

  4. sirih merah says:

    saya suka kalimat yang terakhir : “Saya mengibaratkannya seperti WC umum. Walaupun banyak yang berkoar-koar kotor dan bau. Tapi tetap saja dimanapun keberadaannya dibutuhkan. ”
    saya sendiri bingung mana yang salah psk atau si pelanggan psk.

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>