Published On: Thu, Aug 6th, 2009

Sekitar Proklamasi : Peristiwa Rengasdengklok

Oleh : Rushdy Hoesein

Rushdy HoeseinAdalah Shodancho Singgihlah (merupakan perwira PETA dari Daidan I Jakarta) yang memimpin penculikan dwitunggal Soekarno-Hatta menuju Rengasdengklok. Mereka tiba tanggal 16 Agustus 1945 sekitar jam 08.10 (waktu Tokyo). Para tokoh PETA dan pemuda yang datang bersamanya adalah Chudancho Dr Soetjipto, Soekarni dan Joesoef Koento.

Singgih, Dr Soetjipto dan Joesoef Koento tidak sampai siang hari, telah meninggalkan Rengasdengklok. Cudan Rengasdengklok (setingkat kompi) dipimpin oleh Chudancho Subeno. Chudan ini memiliki 3 buah Shodan (setingkat pleton) yaitu Shodan 1 dipimpin Shodancho Suharjana, Shodan 2 dimpim-pin Shodancho Oemar Bahsan dan Shodan 3 dipimpin Shodancho Affan. Disamping mereka juga ada Honbu (staf) yang dipimpin oleh Budancho senior yaitu Martono. Honbu memiliki kelengkapan petugas urusan persenjataan, keuangan, makanan dan dapur, pakaian, kesehatan, trompet dan juru bahasa.

Ketika Soekarno-Hatta, Fatmawati dan Guntur tiba, hari sudah terang. Para prajurit menyambut para tetamu setengah tawanan ini. Mereka berteriak : “Hidup Bung Karno, Hidup Bung Hata. Indonesia sudah merdeka. Jepang sudah modar (mati),” dan sebagainya.

Untuk sementara para pemuka bangsa ini ditempatkan di rumah Chudancho Subeno. Tapi khawatir mencolok, kemudian dipindahkan kerumahnya seorang China bernama Giau I Siong atau Djiauw Kie Siong. Rupanya dipelopori para prajurit PETA, diwilayah Rengasdengklok sudah terjadi perebutan kekuasaan dan pernyataan kemerdekaan. Ini terbukti dengan berkibarnya bendera merah putih dimana-mana.

Rakyatpun sudah berkumpul terutama dimuka Chudan. Pada jam 9.00 pagi (waktu Tokyo) Wedana Mitsui, bersama stafnya orang Jepang dan sejumlah Jepang lainnya sudah ditawan. Lalu sebagai pimpinan daerah baru, diangkat Camat Sujono Hadipranoto. Para pemuda dalam organisasi Seinendan dan Kibodan diaktifkan. Peresmian pergantian pimpinan dan pernyataan kemerdekaan ini diadakan dilapangan kecamatan dimana Hadipranoto bertindak selaku inpektur upacara dan pakai berpidato segala. Dilakukan upacara penurunan Hinomaru (bendera Jepang) dan penaikan sang Merah Putih. Rupanya cukup hikmat juga, sehingga beberapa orang menitikkan air mata.

Lukisan Dudum Sonjaya anak klas 3 SD pada tahun 1945 tentang gambar rumah Djiauw Kie Siong . Dalam gambar tampak Bung Karno, Bu Fat dan Guntur. Djiauw Kie Siong rupanya dahulu adalah pembuat peti mati.

Lukisan Dudum Sonjaya anak klas 3 SD pada tahun 1945 tentang gambar rumah Djiauw Kie Siong . Dalam gambar tampak Bung Karno, Bu Fat dan Guntur. Djiauw Kie Siong rupanya dahulu adalah pembuat peti mati.

Sekitar jam 11.00, rombongan lain bertambah yang datang ke Chudan antara lain Syuchokan (residen) Soetardjo Hadikoesoemo, Kenco Purwakarta (Bupati) Pandu, Fuku Kencho Purwakarta (patih) Djuarsa, Soncho Batujaya (camat) Bunyamin. Kedatangan mereka tidak sengaja kebetulan saja karena berada disekitar Rengasdengklok karena sedang mengontrol padi. Otomatis mereka setengah ditahan di Chudan. Setelah tengah hari Soetardjo bergabung dengan rombongan Soekarno-Hatta.

Perlu diketahui, saat pagi hari Chudancho Soebeno sedang berada di Purwakarta. Baru tengah hari dia datang di Rengasdengklok. Pada pukul 17.00 WIB tiba di Rengasdengklok Mr Soebardjo diantar Joesoef Koento dan Shodancho Sulaiman. Maksudnya mau menjemput Soekarno-Hatta. Setelah itu rombongan yang baru datang ini dipertemukan dengan Soekarno-Hatta termasuk Soetardjo. Pada jam 18.00 perundingan dimulai. Hasil perundingan Soekarno-Hatta setuju diadakan Proklamasi setelah kembali ke Jakarta. Jam 19.30 rombongan kembali ke Jakarta.

(Sumber tulisan : PETA dan Peristiwa Rengasdengklok oleh Oemar Bahsan, NV Melati Bandung.1955)

* Lahir di Jakarta 64 tahun silam.
Peneliti Sejarah, diantaranya meneliti Soal Sekitar Proklamasi,
Rawa Gede dan Resimen 6 Cikampek.

Silahkan Berkomentar Dengan Akun Facebook Anda!

comments

Displaying 7 Comments
Have Your Say
  1. […] Bertempat di di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, pada tanggal 17 Agustus 1945, Soerkarno bersama M. Hatta membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Pembacaan itu merupakan deklarasi bahwa Indonesia sejak saat itu menyatakan kemerdekaannya sebagai sebuah bangsa dan negara yang berdaulat. Pembacaan teks proklamasi ini disambung dengan pengibaran bendera merah putih. Sehari sebelumnya, pada tanggal 16 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta dibawa ke Rengasdengklok Karawang untuk merundingkan kemerdekaan ini oleh para pemuda, yang kemudian dikenal dengan Peristiwa Rengasdengklok. […]

  2. Si cantik says:

    Lebih baik cerita tentang Rengasdengklok tersebut lebih dipaparkan secara rinci, ya kalau bisa sampai 20 Lembar… Siapa tahu makin banyak yang tertarik untuk membacanya… iyakan ?

  3. Hantu Laut says:

    siapa sebenarnya para pemuda yg langsung menculik soekarno, hatta, fatmawati n guntur. kemana route yg mereka tempuh. trims

  4. SAYA agak terkejut, ketika seorang saksi sejarah mengatakan bahwa Proklamasi Kemerdekaan terselenggara di Rengasdengklok 16 Agustus 1945 dan oleh karena itu peringatan Hari Kemerdekaan adalah yang di Rengasdengklok dan bukannya pada 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56 Jakarta.

    Sekilas, saya menyukai adanya perbedaan karena perbedaan itu adalah rahmat.Tetapi selama masih belum bisa membuktikan secara otentik, maka kita sepakat untuk memilih 17 Agustus 1945 sebagai Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Memang sulit untuk membuktikan apakah sumber-sumber itu otentik atau tidak, karena para pelaku sejarah sudah banyak yang tua-tua, daya ingat mereka sudah turun, bahkan ada yang sudah meninggal dunia.

    Sumber terakhir itu juga mengatakan, Soekarno dan Hatta membacakan proklamsi yang ditulisnya dan menaikkan bendera sang saka merah putih di Rengasdengklok. Ditegaskan, Soekarno setuju saja dengan argumen para pemuda yang mengamankannya ke Rengasdengklok.

    Hal ini bertolakbelakang dari buku yang saya tulis: Dasman Djamaluddin,Butir-butir Padi B.M.Diah (Jakarta:Pustaka Merdeka, 1992), halaman 75-76, sejak semula Bung Karno marah dan memegang batang lehernya serta membuat gerakan seakan-akan menggorok leher. Dengan demikian, ia hendak menunjukkan bahwa ia tidak setuju meskipun disembelih sekali pun.”Biar pun saya digorok, saya tidak akan melakukan Proklamasi,” ujar Bung Karno. Selanjutnya diungkapkan bahwa Bung Hatta setuju dengan sikap Bung Karno.

    Perlu diketahui B.M.Diah yang bukunya saya tulis adalah juga saksi sejarah. Beliau adalah salah seorang saksi sejarah, satu-satunya seorang wartawan yang hadir ketika Bung Karno-Hatta merumuskan proklamasi pada tanggal 16 Agustus 1945 malam di Rumah Maeda (sekarang menjadi Museum Naskah Perumusan Naskah Proklamasi) di jalan Imam Bonjol no.1 Jakarta. Beliau pula yang menyaksikan, Sayuti Melik mengetik naskah proklamasi setelah ditulis Bung Karno. B.M.Diah berdiri tepat di belakang Sayuti Melik yang sedang mengetik.

    Jadi untuk sementara saya mengatakan, bahwa rumusan naskah proklamasi itu baru diperbincangkan tanggal 16 Agustus 1945 malam di rumah Maeda, bukannya di Rengasdengklok.Kalau sudah diproklamsikan di Rengasdengklok, mengapa Bung Karno dua kali membacakan Proklamasi. Kalau benar (sekali lagi benar), bukankah di dalam hukum berlaku hal-hal yang baru menafikan hal-hal yang lama ? Jadi yang dipergunakan adalah yang baru? Semoga menjadi bahan masukan. Terimakasih (http://dasmandj.blogspot.com)

  5. afifah rahmatika says:

    saya kagum dengan semangat para pemuda indonesia termasuk para pejuang bangsa.
    Ir. soekarno, Drs. moh hatta dan yang lainya.
    ini sangat-sangat memacu saya agar lebih semangat dalam generasi muda,skarang dan masa yang akan datang.
    naskah proklamasi saya masih bingung, karena perbedaan rahmat itu dalam naskah otentik atu klat???
    meskipun saya masih pelajar smp saya ingin menambah wawasan lebih dalam agar kedepannya bisa seperti para pemuda, pejuang zaman dahulu.
    semangat yang mensuport saya agar lebih percya diri serbagai generasi penerus bangsa ini.
    bangsa yang penuh history yang bisa membuat bangsa yang maju.
    naskah proklamasi yang diketik sayuti melik itu kenapa berbeda dengan naskah yang di buat dengan tulisan tangan Ir. soekarno???

  6. ajengarfagaeul dila says:

    tulisan tgn soekarno adlh ……..

  7. urip ariska says:

    saya siswi pelajar SMPN 3 KARAWANG BARAT bangga bahwa perumusan proklamasi kemerdekaan indonesia di kota KARAWANG BARAT tepatnya RENGASDENGKLOK
    kenapa tidak ada film tentang sejarah RENGAS DENGKLOK ? padahal dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan sejarah

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>