Apakah Kita Harus Pintar Berbahasa Inggris?
30th Jul, 2009 | Penulis: Deni Andriana | Rubrik: Pendidikan
“Sumpah pemuda Indonesia, kami pemuda Indonesia bersumpah berbahasa satu bahasa Indonesia.” (Sumpah Pemuda)
“Globalisasi… !!!”
Itulah kata yang sering diteriakan kepada saya sedari SMP sampai di perguruan tinggi sebagai alasan kenapa kita harus belajar bahasa Inggris.
Satu kata globalisasi itu mungkin terlalu sederhana dan butuh penjelasan yang lebih lanjut. Maka untuk itu kemudian saya mendapatkan alasan lainnya yang mungkin lebih tegas dari mereka yang belajar bahasa Inggris : ”Loe akan tersisih dari pergaulan internasional jika loe nggak bisa berbahasa Inggris.. itu jika loe keluar negeri. Lalu, jika loe nanti kerja di dalam negeri pun loe juga harus berbahasa Inggris, loe tahu sekarang banyak perusahaan di negeri ini yang bosnya orang luar.”
Luar biasa, itulah rupanya alasannya kenapa ’kita’ harus pintar berbahasa Inggris. Sebuah latar belakang yang membuat orang tua sedari dini memasukan anaknya ke lembaga-lembaga kursus bahasa Inggris dari yang bertaraf lokal sampai internasional. Mereka pun berseru : biaya tidak masalah, yang penting anak saya masa depannya terjamin.
Banyak kasus yang saya temui dari teman-teman yang tidak mahir atau bahkan sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris, kebanyakan mereka kesulitan ketika melamar kerja. Secara skill bidang pekerjaan, mereka menguasasi dan dinilai cakap, tapi karena ada kriteria bahasa inggris tersebut, mereka akhirnya tersisihkan. Pengalaman lain, adalah dari mereka yang mahir berbahasa Inggris. Pekerjaan seakan terbuka lebar, apalagi kalau skill mereka juga mantap. Dengan skill yang seadanya saja, lapangan kerja toh terbuka, minimal jadi penerjemah ataupun pemandu turis.
Berbagai alasan dan pengalaman yang tertuang diatas, secara implisit memang bisa menjawab pertanyaan ’kenapa kita harus pintar berbahasa inggris?” yang saya ajukan dalam tulisan ini. Namun, secara eksplisit, ada faktor lain yang membuat saya berpikir lain. Yakni, kenapa sih harus bahasa Inggris? Lalu, kalau memang kita pergi keluar negeri kita memakai bahasa Inggris, kenapa di negeri sendiri juga harus berbahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan orang pendatang. Jika kita harus menyesuaikan dengan bahasa mereka ketika kita berkunjung ke negerinya, kenapa mereka yang tidak menyesuaikan diri dengan bahasa kita ketika mereka berkunjung atau bahkan menetap, apalagi membangun usaha disini?
Permasalahan lainnya adalah apakah bahasa Indonesia yang katanya bahasa pemersatu itu kalah agung dengan bahasa Inggris? Bahkan di negeri sendiri, dimana secara luas bahasa pemersatu itu belum juga menjadi bahasa nasional yang diagungkan. Yang lebih mengerikan lagi, tampaknya orang lebih merasa ’keren’ atau berwibawa ketika memakai bahasa Inggris, atau menyisipkan bahasa Inggris dalam tulisan atau bahkan ketika berbicara, contoh kasus terdekat bisa ditemui di acara-acara televisi, sinetron remaja umumnya dan juga bahkan di Karawang Info ini.
Saya sempat berdebat dengan pimpinan redaksi sebuah majalah di Bandung ketika saya magang disana. Berawal dari petanyaan saya kepada beliau, tentang kenapa di majalah ini banyak kata-kata Inggrisnya, walaupun pada dasarnya secara umum majalah ini berbahasa Indonesia, karena target pembacanya adalah Orang Indonesia. Dengan sederhana beliau menjawab, ”beberapa adalah kata-kata yang tidak bisa di Bahasa Indonesiakan, bahkan ada yang ilmiah juga. Lalu, yang lainnya adalah salah satu upaya kita juga untuk mencerdaskan pembaca, dengan menyisipkan sedikit demi sedikit bahasa asing.”
Pada jawaban bagian pertama saya sepakat, karena susah juga kalau kita mengartikan sendiri, sebuah kata yang dari sananya memang begitu, dan saya pun memaklumi karena pada awalnya Bahasa Indonesia, kebanyakan serapan dari bahasa asing, tapi kenyataannya sekarang kan sudah ditetapkan menjadi bahasa nasional.
Namun, untuk alasan kedua saya kurang begitu sepakat, sehingga memunculkan pertanyaan, untuk apa pembaca cerdas berbahasa Inggris… lalu.. lalu..” dan terjadilah perdebatan diantara kami berdua yang tidak mempunyai kesepakatan, tapi hal itu kami wajarkan, karena diskusi tentu saja bukan semata-mata untuk mencari kesepakatan tapi minimal memperluas wawasan dan pemahaman. Dan sayangnya sampai tulisan ini saya buat saya belum cukup paham dengan alasan-alasan dari mereka yang menjawab pertanyaan saya tersebut.
Sekilas, wacana dan pertanyaan tentang bahasa Inggris yang saya ajukan memang sangat sederhana atau bahkan sangat sepele, ”ini pertanyaan anak SD, bahkan TK!” Ujar seorang teman diskusi lainnya suatu waktu. Tapi, saya memiliki maksud yang lebih dalam, yakni apakah itu bukan bentuk penjajahan. Penjajahan yang bukan dalam bentuk fisik tapi dalam bentuk budaya, yang salah satu unsurnya adalah bahasa. Jepang saja bangga dengan bahasanya, dan mereka kebanyakan tidak menggunakan bahasa Inggris yang katanya bahasa Internasional itu di Indonesia, tapi mereka menggunakan bahasa ibunya sendiri. (Menurut kesaksian salah satu teman yang kerja di Pabrik Jepang di Karawang)
Lalu, disebuah kesempatan sebelum tulisan ini saya rampungkan, seorang teman berkata : ”tidak ada yang salah dengan belajar bahasa Inggris, toh suatu waktu kita memerlukannya, tapi kita tentu harus menempatkan dimana dan kapan kita memakainya. Dan lebih penting lagi, jangan mencampur adukan bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia dalam satu dialog.” – mungkinkah ini jawaban yang paling tepat?
Deni Andriana





IMO, dalam lingkungan yang multi ras, bahasa tidak lebih dari alat untuk berkomunikasi. apapun bahasanya, yang penting bisa ada saling mengerti satu sama lain. kemampuan bahasa inggris memang diperlukan disana, alasannya tidak lain karena bahasa inggris adalah bahasa internasional, bahasa pemersatu antar bangsa.
Di era dunia bisnis global seperti sekarang, fanatisme penggunaan bahasa adalah suatu keterbelakangan. pasti akan susah buat kita menjual sesuatu ke bangsa lain tanpa penggunaan bahasa inggris. konsultan STM negeri Karawang waktu saya sekolah dulu adalah seorang yang berkebangsaan jerman, dan beliau berkomunikasi dengan kami menggunakan bahasa inggris. konsultan JICA jepang di UPI tempat saya kuliah dulu juga berdialog dengan bahasa inggris, dan saat ini bos saya di pekerjaan adalah orang perancis yang dalam keseharian dipekerjaan menggunakan bahasa inggris untuk berkomunikasi.
Pendek kata, tanpa mengurangi rasa cinta terhadap bahasa indonesia dan bahasa daerah lokal, penguasaan bahasa inggris di era sekarang adalah suatu keniscayaan.
Yup begitulah bos, setidaknya penempatan kapan kita harus menggunakannya adalah solusi yang saya kira tepat untuk juga tetap melestarikan bahasa daerah dan bahasa Indonesia ya
Dan lebih penting lagi, jangan mencampur adukan bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia dalam satu dialog.” – mungkinkah ini jawaban yang paling tepat? Mungkin iya dan mungkin tidak, Kang…
Lha wong presiden kita aja ketika debat capres kemarin.. ingetkan? Muang tap mbanget nyampur english dan bahasa Indonesia.. tapi itu menurut saya; pas saatnya dan sah-sah saja.
Pengalaman saya; mereka yang faham betul dengan bahasa atau mereka yang fasih berbahasa banyak, cenderung akan berusaha menjaga kefasihan bahasanya. Makin faham seseorang terhadap sebuah bahasa, makin apik tutur katanya pada semua bahasa. Tidak banyak dari adik-adik kita yang ikut-ikutan bergaya english, tetapi bahasa Indonesia mereka sendiri sangat berantakan. Karawang, termasuk sebuah kabupaten yang multi bahasa, silahkan cek sendiri di wikipedia. Ada banyak bahasa yang dituturkan di masyarakat kabupaten ini, ada basa Sunda dengan bermacam dialek, ada boso Jowo dengan bermacam logat, mulai dari timur Jawa Keraton, Jawa Ngapak hingga Jawa Cirebonan yang dipakai masyarakat sekitar Cilamaya.
Jangan lupa, masih ada bahasa Betawi, Mandarin. Lalu ada International English untuk masyarakat Industri sekitar KIC, Educated English banyak diusahakan oleh teman-teman saya yang bergerak di sektor bisnis pendidikan dengan mendirikan LPK-LPK dan klub-klub bahasa Inggris. Kaya sekali Karawang ini kan? Nah, masih banyak yang harus dibenahi dari titik ini, -pengembangan bahasa-. Untuk saat ini syarat penguasaan bahasa mutlak diperlukan dengan tetap menjaga penggunaan bahasa Indonesia yang sempurna sebagai bahasa bangsa serta bahasa daerah sebagai upaya pelestarian kearifan budaya lokal, sebab dari budaya lokalah, budaya nasional sesungguhnya berawal.
Media berkembang pesat, pengetahuan adalah salah satu ekses positifnya, saat ini English tetap nomor satu sebagai bahasa pengantarnya. Anda yang menguasai ITC tanpa didampingi penguasaan English yang cukup, sepertinya anda akan mengalami banyak kesulitan dalam mengikuti perkembangan ruang lingkup kerja anda.
Terakhir, sebagai mayoritas, umat Islam di Karawang harus tetap mampu mempelajari Islam setidaknya dengan cara langsung mengakses medianya yang bersuluh-pengantar bahasa Arab, sebab tanpa disertai pengetahuan meski sedikit terhadap bahasa Arab, umat muslim akan semakin berpeluang terjerumuskan dengan tafsir-tafsir yang salah terhadap teks-teks suci agama ini, lalu munculah akibat2 buruk semisal terorisme. Apa yang salah dari umat ini? Tidak adanya semangat belajar terhadap agama mereka sendiri!
Terlepas dari semua itu, bahasa adalah cermin pribadi seseorang, dulu leluhur kita akan malu dan tersipu jika salah ucap bahasa terhadap orang tua dan guru? Sekarang?
mantap kajian nya nih bos… makasih banyak jadi melengkapi
Iya, berbagai bahasa ada di karawang apalagi seiring urbanisasi, ya karawang kota urban… budaya pun bercampur disini… semoga saja tambah memperkaya karawang ya.. bisa saling belajar dari satu kepda yg lainnya
EnglisHour.Co.CC English at Your Mouse Clicks! English Help with Native Speakers! The Fast Track to Learn English! The Linguistic Skills Builder.
Karena bahasa akan digunakan untuk bersosialisasi dan berinteraksi dalam suatu komunitas. Sehingga sangatlah penting penggunaan bahsa inggris apabila kita sedang berada di didalam komunitas internasional, namun akan sangat tidak cocok apabila kita berada pada komunitas nasional atau kedaerahan terlebih kalau memaksakan istilah ingris di masukan dalam bahasa indonesia meskipun dengan alasan pendidikan.
Mungkin bahasa qalbu atau bahasa hati yang dirasa sangat penting bagi kita pada masa sekarang ini yang katanya krisis mora dan kepekaan. Agar kita dapat saling mengerti dan memahami satu sama lain.
hmmpp. . .enlish languages is my LIVE !!
no day without english for me. . .
no sekon if me away from english. . .
englis is my boyfriend. .
it is my parents two after my mom and dady. . !!
I LOVE YOU ENGLISH LANGUAGES !!
you always in my heart !!