Media Online Warga karawang

Harapan Itu Bernama Sekolah Komunitas

12th Apr, 2009 | Penulis: Doni Riadi | Rubrik: Pendidikan

Fina Af’idatussofa (17) sesekali melihat pada gerimis yang turun satu-satu melalui jendela rumahnya. Sejenak kemudian, ia kembali menekan tuts-tuts keyboard di hadapannya. Ia sedang menulis sebuah novel. Novel yang kesekian. Dalam kurun waktu lima tahun ini, beberapa novel karyanya telah diterbitkan. Royalti yang diperolehnya sebagian telah menjelma menjadi komputer yang sedang digunakannya kini.

Ia harus bergegas, di penghujung waktu dhuha nanti, ia harus ke sekolah menghadiri rapat bersama teman-temannya. Teater “Gedhek”, forum belajar yang diikutinya berencana tampil di Festival Mata Air Salatiga. Mereka harus banyak berlatih untuk mempersembahkan hasil yang terbaik.

Pendidikan Murah Berkualitas Bukanlah Utopia

Landscape Desa Kalibening : di kaki gunung Merbabu

Landscape Desa Kalibening : di kaki gunung Merbabu

Bersama puluhan rekan-rekanya, Fina adalah siswa, atau lebih tepatnya disebut warga belajar, dari sebuah sekolah alternatif yang bernama SMP/SMU Qaryah Thayyibah (Q-Tha). Sekolah lokal namun dengan kualitas global yang terletak di sebuah desa kecil di kaki gunung Merbabu yang berhawa sejuk, Kalibening-Salatiga.

Sekolah alternatif yang telah berdiri sejak enam tahun lalu itu, mulanya didirikan untuk menjawab problem klasik tahunan sebagaimana yang dialami oleh desa-desa lainnya di Indonesia. Yaitu tingginya biaya mengakses pendidikan lanjutan/menengah ‘bermutu’ di kota, saat musim PSB (Penerimaan Siswa Baru) tiba.

Tingginya biaya pendidikan itu dikarenakan dua hal pokok, yaitu biaya transportasi ber-BBM dari rumah ke sekolah (pp) dan biaya pendidikan sekolah itu sendiri (sumbangan pendidikan, uang gedung, seragam, buku, SPP, Operasional, dll). Kelangkaan pupuk atau menurunnya harga gabah (imbas beras impor), pada gilirannya juga menambah faktor kesulitan bagi anak-anak petani untuk mengakses pendidikan berkualitas. Maka ancaman putus sekolah (DO) di depan mata.

Awalnya, tidak mudah bagi Bahrudin (penggagas Q-Tha) untuk meraih kepercayaan dari warga desa. Segala sesuatunya terlihat asing. Semisal, kelas yang ‘hanya’ menggunakan garasi rumah. Metode belajar yang diluar kelaziman, dan guru dengan jumlah terbatas. Hanya satu yang terlihat istimewa, yaitu tersedianya akses internet 24 jam sebagai perpustakaan digital dan sumber ilmu tak terbatas, bantuan dari seorang pengusaha TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) di kota Salatiga.

Kini, enam setelahnya, berkat konsistensi dan kerja keras, Q-Tha telah menjadi sebuah sekolah alternatif murah namun berkualitas. Ia disegani tak saja di lokal Salatiga namun telah menjadi ikon nasional pendidikan alternatif. Lagu “Mars Belajar Pendidikan Kesetaraan” Dirjen PLS Diknas di produksi di sekolah ini. Q-tha telah pula membidani berdirinya 11 titik sekolah berbasis komunitas serupa. Muridnya sudah ratusan, berlipat-lipat jika dibanding angkatan pertama yang hanya 12 orang. Dari garasi, telah berkembang menjadi sebuah Resource Center (Lumbung Sumberdaya) berlantai dua.

Banyak artikel, buku, film, lagu, dan video klip yang telah dihasilkan oleh murid-murid Q-Tha. Sebuah torehan prestasi dan produktifitas yang cukup mencengangkan jika dibandingkan remaja sebayanya di sekolah-sekolah lain pada umumnya. Kak Seto bahkan sempat mengundang beberapa diantara mereka (Izzah, Fina, Qonaah) ke Jakarta untuk menerima anugerah “Anak Kreatif Indonesia 2006”. Maka tak heran, kemudian Q-tha banyak dikunjungi oleh mahasiswa dari universitas berbasis pendidikan/keguruan atau sekolah-sekolah yang ingin studi banding. Sejumlah stasiun TV bahkan live in berhari-hari untuk membuat profilnya (Metro TV, Trans TV, TV7, dan TV-E).

Pendidikan alternatif Q-Tha adalah sebuah fenomenal. Ia mematahkan argumen bahwa sekolah berkualitas haruslah mahal, atau dalam kata lain bahwa ‘orang miskin’ dilarang sekolah (berkualitas). Pendidikan murah dan (tetap) berkualitas bukanlah sebuah utopia.

Murah, Berkualitas, dan Berbasis Komunitas

Bila kita telisik, setidaknya ada tiga problem utama pendidikan di Indonesia. Yaitu : mahalnya biaya pendidikan, fasilitas dan infrastruktur yang tak merata antara pusat dan daerah, dan rendahnya mutu/kualitas pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan, yang naga-naganya makin mengarah ke komersialisasi, berdampak pada tingginya angka putus sekolah (DO). Dr. Utomo Dananjaya (2005), mengutip Data Balitbang Diknas 2003, menengarai bahwa angka putus sekolah dalam program wajib belajar 9 tahun karena faktor kemiskinan mencapai 62,67 %.

Meski demikian, bicara soal pembiayaan pendidikan, terutama setelah pemberlakuannya di Januari 2009 nanti, sejatinya pemerintah telah berada dalam track yang benar. Besaran BOS dinaikkan signifikan (SD Kota : Rp.400 ribu dan SD Desa : Rp397 ribu, SMP Kota Rp575 ribu dan SMP Desa : Rp570 ribu)dan telah pula menalangi pembelian buku sekolah (offprint) dan BSE (online). Beberapa pemerintah daerah (contohnya Kota Semarang) bahkan mengeluarkan kebijakan untuk melarang sekolah menarik uang SPI (Sumbangan Pendidikan Institusi) yang menjadi momok bagi orang tua saat memasukkan anaknya ke sekolah negeri. Disinilah, titik point penting sekolah murah. Saat biaya SPP dan buku ditanggung oleh pemerintah. Nantinya, sekolah tinggal fokus bagiamana melakukan sebuah revolusi belajar untuk menaikkan mutu pendidikan.

Permasalahannya, angin segar itu baru tertuju pada sekolah negeri. Padahal, sekolah alternatif rata-rata lahir dari rahim para aktivis pendidikan dan gerakan sosial alias swasta. Belum banyak daerah (APBD) yang memberikan dana kontingensi merata ke sekolah swasta apalagi ke model sekolah alternatif atau Sanggar Belajar.

Sekali lagi, masyarakat kemudian (masih) harus bekerja keras untuk menyiasati bagaimana agar pendidikan berkualitas yang dicita-citakan tetap murah. Lahirnya sekolah alternatif di tengah-tengah komunitas marjinal, seperti petani, petani penggarap, nelayan kecil, kaum miskin kota, suku pedalaman, daerah terpencil dan terisolir, membawa konsekuensi terobosan cara belajar baru dan membuat begitu banyak hal beda dengan sekolah formal.

Semisal ,penerapan metode belajar membebaskan, kurikulum yang menyesuaikan dengan alam dan lingkungan. Atau adaptasi lain yang bersandar pada aspek humanistis, psikologis, dan kreatifitas. Betapapun, nilai beda sekolah alternatif ini telah memberikan keunggulan tersendiri dibanding dengan sekolah formal , yang dalam bahasa Romo Mangun, telah kehilangan aspek humanisme dan karakter sejatinya karena telah menjadikan anak didik sebagai robot/mekanis.

Murah

Untuk menjaga karakter murah ini, Q-Tha berprinsip membebaskan/meringankan murid dari biaya. Pada awal-awal berdiri, setiap murid diberi satu unit komputer murah yang dicicil 1000 rupiah perhari selama kurun waktu mereka bersekolah. Komputer itu dibawa kerumah, tidak saja agar mereka akrab menggunakan perangkat TIK, tapi juga sebagai alat produktif dan berkarya. Sekarang, komputer yang digunakan sudah berganti dengan berspesifikasi tinggi yang mampu digunakan untuk mengedit foto dan video. Karya yang telah dihasilkan, tidak cuma menumpuk di meja guru, tapi telah bernilai jual dan menjadi sumber penghasilan bagi siswa.

Karena berbasis komunitas, maka Q-Tha dapat memotong biaya transportasi yang harus dikeluarkan jika letak sekolah jauh dari rumah. Rata-rata, siswa Q -Tha berdomisili tak jauh dari sekolah. Dalam perkembangannya, sekolah malah bisa mendatangkan kemanfaatan bagi rumah di sekitar sekolah. Karena, siswa dari jauh/kota yang tertarik bergabung ke Q-Tha, kemudian memilih indekos di rumah warga, menyatu dengan segenap kesederhanaan khas desa.

untitled-4-copyPendapatan pengelola Q-Tha dari menjadi narasumber atau pembicara, royalti buku, penjualan kaset, pemasukan dari serikat tani Qaryah Thayyibah, ataupun sponsor/foundation berbasis proposal/proyek, dan kerjasama-kerjasama dengan berbagai pihak membuat Q-Tha mampu menggratiskan biaya akses internet untuk para siswanya. Meski sekarang ini (akhir 2008), seiring dengan bertambahnya jumlah siswa dan kebutuhan infrastruktur, membuat Q-Tha menambah pemasukan dengan sistem akses berbiaya. Namun, tetap dengan harga yang masih sangat murah, 1000 rupiah perjam. Bandingkan dengan harga warnet yang mencapai 4000-5000 perjam. Kedepan saat kondisi keuangan menguat, akses internet sebagai jantung belajar Q-Tha, akan kembali digratiskan.

Langkah berikutnya adalah mencari pemasukan lain bagi guru. Sekolah swasta umumnya menggaji guru dari SPP murid. Biaya gaji guru ini bahkan bisa mencapai 60% dari RAPBS sekolah. Logika ini tak bisa dipakai di sekolah alternatif karena akan berimbas pada mahalnya biaya sekolah. Beberapa sekolah alternatif kemudian memilih guru relawan. Benar-benar relawan, tanpa di gaji dan diapresiasi. Sang guru biasanya telah memiliki profesi tersendiri dan meluangkan waktu luangnya menjadi guru relawan. Untuk guru yang benar-benar totalitas di sekolah, mengambil contoh Q-Tha dengan komunitas desa, guru difasilitasi dengan tanah bengkok sebagaimana desa menggaji kepala desanya. Bengkok inilah yang menopang penghidupan guru. Prinsipnya, bukan murid yang menghidupi guru.

Penyebab berikutnya yang berpotensi membuat biaya sekolah meninggi adalah seragam dan gedung. Maka sekolah alternatif membebaskan seragam. Siswa tak diwajibkan membeli seragam. Cukuplah ia berpakaian sopan dan rapi, seperti halnya mahasiswa kuliah. Penghematan dari pembelian seragam ini cukup signifikan, karena seragam di sekolah biasanya lebih dari satu jenis (putih-biru/abu-abu, coklat-coklat, olahraga, batik, dst). Untuk kepentingan identitas, sekolah alternatif menyilahkan muridnya membuat satu model seragam. Dengan catatan,setelah didiskusikan bersama dan tidak memberatkan.

Umumnya, uang gedung adalah senjata tahunan bagi sekolah untuk menarik dana dari orang tua, walaupun secara de facto gedung sekolah sudah komplit dan bertahun-tahun kemudian tak ada penambahan gedung. Sekolah alternatif mendesain sekolahnya sedemikian rupa sehingga mengoptimalkan pendapatan sekolah bukan untuk bangunan fisik yang bernama gedung, tapi untuk pengadaan fasilitas dan alat-alat belajar siswa yang produktif dan menghasilkan.

Sehingga, wujud sekolah alternatif bisa saja berbentuk saung-saung terbuka dengan bahan-bahan ramah lingkungan dan tentu saja harus lebih murah dari gedung kelas konvensional. Atau pemanfaatan bangunan rumah tinggal yang didesain sedemikian rupa menjadi kelas-kelas dan perpustakaan. Termasuk disini adalah ruang garasi yang disulap menjadi lab. komputer. Sekolah komunitas pedesaan malah memiliki keunggulan, yaitu laboratorium alami yang sangat luas, berupa areal persawahan , peternakan, dan perkebunan milik warga atau milik orang tua siswa.

untitled-3-copyDi Q-Tha, beberapa murid difasilitasi mesin penggiling kedelai. Yang kemudian oleh mereka diubah menjadi susu Sake (Sari Kedelai). Setelah melakukan percobaan mencari formula rasa terbaik, termasuk dengan penambahan jahe, dan dikemas menarik, susu Sake telah dipasarkan di sejumlah pasar dan warung hingga saat ini.

Beberapa aset lain milik perseorangan juga bisa digunakan di Lumbung Sumberdaya Q-Tha, dengan sistem sewa yang murah. Alat-alat pertukangan, mobil, mesin, handycam, kamera, buku-buku, laptop, LCD, dan perangkat lainnya setelah didaftarkan, bisa digunakan oleh siapa saja yang membutuhkan. Dan si empunya alat akan mendapat keuntungan dari penggunaan alat yang ia pinjamkan ke Lumbung Sumberdaya. Alat-alat itu jauh akan lebih memberi kemanfaatan dibanding jika disimpan dalam diam sebagai aset pribadi.

Sekolah yang berperan sebagai fasilitator karya warga belajarnya juga bisa mendapat pemasukan tambahan. Q-Tha mendirikan lini penerbitan buku dan kaset yang diberi nama Pustaka Q-Tha dan Pustaka Millenial. Penerbitan sederhana itu (dengan fotokopi dan jilid manual) ternyata berfungsi ganda. Memotivasi murid untuk berkarya, sekaligus menjadikannya sumber pendapatan. Hampir sebagian besar murid-murid Q-Tha, terutama yang menonjol kecerdasan linguistiknya pernah menulis buku, baik sendiri maupun bersama-sama, dan diterbitkan oleh Pustaka Q-Tha. Begitu juga dengan kaset hasil penggandaan rekaman televisi tentang Q-Tha atau kompilasi film-film indie dan lagu yang dibuat orisinil oleh murid dan guru-guru Q-Tha.

Di Bandung, Sony Sugema membiayai sekolah murah berkualitasnya, Alfa Centauri, dari hasil keuntungan operasionalnya menjalankan usaha Bimbel Sony Sugema College. Ini belum terhitung, sekolah murah yang didirikan oleh lembaga-lembaga pengumpul dana zakat umat seperti Smart Cendekia-nya Dompet Dhuafa Republika.

Jadi, dalam konteks sekolah swasta atau sekolah alternatif, sekolah murah membutuhkan dua hal pokok, yaitu : pertama, soliditas yayasan atau pengelola sekolah yang ditandai dengan berjalannya roda-roda pencarian dana. Boleh dikata, sekolah yang mengandalkan pemasukan utama berasal dari SPP siswa, menunjukkan kondisi yayasan yang sakit (biasanya karena one man show) dan bisa dipastikan tak akan bisa mempersembahkan sekolah murah. Kedua, pemerintah yang komit menjalankan amanah UU membelanjakan seperlima dari anggaran nasionalnya untuk urusan pendidikan. Termasuk memberikan perhatian penuh kepada model-model sekolah alternatif dan pendidikan kesetaraan.

Berkualitas dan Berbasis Komunitas

Meski murah bukan berarti abai terhadap kualitas. Apapun kondisinya, pendidikan berkualitas adalah muara akhir bagi para pejuang pendidikan. Sudah menjadi harga mati. Tak dapat di tawar lagi.

Terlebih, lahirnya model sekolah alternatif, selain karena faktor dana, yang terpenting adalah karena ia merupakan antitesa dari model pendidikan gaya bank yang dikritik oleh Paulo Freire dan Ivan Illich. Belajar gaya bank adalah pendidikan yang memasung murid tumbuh menjadi pembelajar karena menciptakan ketergantungan murid kepada guru. Dan kenyataannya ia masih menjadi cara favorit yang diterapkan dikelas-kelas sekolah kita. Sekolah murah alternatif adalah sebuah entitas bebas dan merdeka. Ia adalah sekolah yang membebaskan. Ia bukan pula perwujudan dari “model sekolah negeri dalam baju swasta” yang sekedar murah. Ia lahir karena hendak menjawab kritik terhadap institusi bernama sekolah yang cenderung makin dehumanis dan gagal mencetak seorang pembelajar sepanjang hayat.

Pendidikan berkualitas selalu dimulai dari cara pandang terhadap hakikat sekolah dan pendidikan (input), pemilihan metode belajar yang nantinya mempengaruhi pengayaan berproses dan pengalaman belajar (proses), dan karakter luaran baik murid maupun guru (output). Kualitas yang diukur dari seberapa banyak luaran sekolah yang diterima sebagai pekerja/pegawai sudah tak relevan dan harus diganti dengan seberapa banyak luaran yang menciptakan pekerjaan, menjadi inisiator bagi lingkungan, dan problem solver masyarakat.

Dalam konteks pendidikan dasar dan menengah, kualitas belajar identik dengan seberapa kaya proses/pengalaman belajar yang dialami siswa. Semakin kaya berproses semakin ia tumbuh menjadi pribadi pembelajar dan selalu haus akan ilmu.

Paling tidak ada tiga hal yang harus dilalui oleh sebuah lembaga sekolah untuk mempersembahkan pendidikan berkualitas. Yaitu bilamana ia mampu : satu, mengintegrasikan beragam subyek mata pelajaran menjadi suatu kegiatan belajar yang terpadu (integrated learning) dan dilakukan dengan menyenangkan (enjoy learning). Dua, tak melulu terlalu berorientasi pada kecerdasan siswa, namun pada penciptaan karakter mulia seperti kesantunan dan kejujuran. Dan tiga, menciptakan kesetaraan guru-murid sebagai subyek pembelajar, termasuk memahami murid sebagai pribadi unik dengan potensi kecerdasan yang berbeda-beda. Ketiga unsur diatas membutuhkan satu hal penting yaitu guru-guru bijak yang berwawasan luas, yang tercipta karena berkemampuan akademis bagus tapi mungkin pula karena kaya pengalaman hidup.

Secara kasat mata, sekolah yang berkualitas, akan dipenuhi oleh wajah-wajah ceria para murid dan guru. Kelas ramai dan dinamis tak dingin dan kaku. Mereka bicara soal hal-hal kekinian dan merealita di masyarakat. Diskusi-diskusi dan karya-karya mereka mewakili zaman. Bukan tema usang dari buku usang pula. Sekolah menjadi rumah kedua bagi mereka. Bahkan mereka bersedih jika hari libur tiba. Kebalikan dari fenomena di sekolah-sekolah formal dimana hari libur adalah hari yang paling ditunggu-tunggu. Pula, tak ada kekerasan dan bullying antar siswa.

untitled-5-copyDi Q-Tha, murid secara mandiri, mendirikan banyak forum-forum belajar untuk memenuhi kebutuhan mereka akan ilmu. Ada forum filsafat, menulis, ROHIS, forum teater, majalah sekolah, fotografi dan editing, film, dan sebagainya. Mereka secara mandiri pula menyusun jadwal belajar, mencari referensi dan narasumber yang diperlukan dalam proses pembelajaran itu.

Namun, sekolah alternatif murah berkualitas ini bukannya tanpa kendala. Kendala klasik itu berkisar soal ketersediaan fasilitas dan sumber daya. Maka dukungan basis komunitas menjadi jalan keluarnya. Lingkungan dan komunitas itu menjadi penyedia sumber daya (resource) tanpa batas. Prinsip sekolah berbasis komunitas adalah belajar dimana saja,kapan saja, dengan guru siapa saja. Sehingga setelah potensi sebuah komunitas terpetakan, maka nantinya akan terlihat sesungguhnya jalan keluar dari keterbatasan itu terbuka lebar.

Daya dukung sebuah komunitas sangatlah besar. Terlebih, sekolah berbasis komunitas pada akhirnya bukanlah membangun sekolah tapi membangun komunitas yang berdaya. Saat komunitas itu menyadari peran sekolah, maka sumbangsih yang diberikan tidak hanya berupa harta benda tapi sampai pada penyerahan diri seluruhnya (menjadi guru, tenaga ahli, pendamping, dsb). Adanya ikatan emosional, termasuk ikatan kekeluargaan, juga membuat sekolah komunitas memiliki unsur trust (saling mempercayai) yang tinggi.

Terlebih,orang tua dan keluarga, sebagai madrasah pertama dan utama, masih tetap bisa berada di dalam lingkaran, bersinggungan langsung, berperan aktif dan kontributif terhadap perkembangan kebutuhan pendidikan anak. Hal ini akan melahirkan spirit untuk selalu memberikan yang terbaik.

Riilnya, di Q-Tha, pondok pesantren di desa (Hidayatul Mubtadiin) bisa disinergikan untuk melengkapi pengetahuan warga belajar yang tak didapatkan di sekolah. Contoh lain, di Perumahan Tugu Depok, sekolah komunitas Teknonatura, menggunakan mesjid perumahan sebagai tempat utama berkumpul di pagi hari untuk memulai aktifitas. Dan, masih banyak lagi, potensi masyarakat sekitar yang bisa memperkuat pengelolaan sekolah berbasis komunitas berbiaya murah namun tetap berkualitas.

DO = Nol

Cita-cita besar bangsa ini, –menjadi bangsa yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur—dimulai dari pendidikan yang berpihak bagi semua. Untuk permulaan, cukuplah dengan menjadikan negeri ini dengan penduduk yang putus sekolah (DO) sama dengan nol. Artinya, tidak ada satupun anak dinegeri ini yang tidak sekolah, apapun alasannya. Sebab, seperti kata petuah bijak, “pendidikan bukanlah segala-galanya, tapi segala-galanya bermula dari pendidikan”. *+

Catatan Redaksi : Mungkinkah di Karawang berdiri sekolah berbasis komunitas seperti halnya SMP/SMU Qaryah Thayyibah (Q-Tha) di Salatiga? Kita semua tentunya yang bisa menjawabnya!

Info Lainnya

Bookmark and Share

  • Tags: ,

    Dapatkan Kiriman Artikel Karawang Info Terbaru Langsung Ke Email Anda (Gratis) - Masukan Alamat Email Anda Pada Kolom di Bawah (Enter your email address) :

    Delivered by FeedBurner

    5 Komentar
    Tinggalkan Komentar »

    1. [...] See more here:  Harapan Itu Bernama Sekolah Komunitas | karawanginfo.com [...]

    2. [...] Read the original here:  Harapan Itu Bernama Sekolah Komunitas [...]

    3. acung 2 jempol u/ bpk bahrudn dkk.

    4. saya mau memperkenalkan salah satu alternatif pendidikan murah tapi bermutu tinggi dengan Indismart. Indismart adalah media pembelajaran online interaktif untuk pelajar SD hingga SMA. Indismart telah digunakan oleh 17.500 sekolah di Indonesia dan penguna individual lainnya. Kunjungi www indi-smart dot com dan bergabunglah segera

    5. Yup, betul! di Karawang juga udah ada sekolah senafas dengan Q-Tha. Namanya saja yang Sekolah Alam, bahasa sononya Shool of Universe. Tapi jiwanya sama. Ada SD dan SMP. Pendampingannya langsung oleh Pak Lendo Novo, founding father sekolah alam. Lokasinya di Desa Wadas, belakang perum Karaba, atau seberang perumahan de Parahyangan, Telukjambe Timur. Akses mudahnya, masuk lewat jalan samping RM mang Ajo. Silakan kunjungi untuk melihat-lihat. Jangan kaget kalau tidak ada bangunan permanen dari tembok. Yang ada adalah bangunan saung dari kayu yang artistik. Anak-anaknya tidak terlalu banyak, tapi sangat efektif.
      Semoga menjadi kontribusi berarti untuk kemajuan Karawang….amiin

    Tinggalkan Komentar