Independensi dalam Bermusik, Bandit Chaos dan Kolobos
27th Oct, 2008 | Penulis: Deni Andriana | Rubrik: Inspirasi Warga
Bandit Chaos (dari kiri : Dedi, Fuji, Evi, Zaenal)
Karawang (KarIn) – Di kesempatan pagelaran Monster of Rock di depan stadion Singaperbangsa minggu (26/10) kemarin, KarIn menyempatkan berbincang dengan dua band underground yang tampil, diantaranya Bandit Chaos dari Sukamandi Subang dan satunya lagi band lokal Karawang bernama Kolobos. Dari hasil perbincangan santai namun serius tersebut, berikut ini adalah catatan ringkasnya :
Bandit Chaos (Sukamandi)
Bandit Chaos berdiri secara resmi pada tahun 1997, diawali dengan komunitas sepeda BMX yang sudah berdiri sejak 1993, di Sukamandi, Subang. Hingga kini, Bandit Chaos sudah mengalami berbagai perubahan formasi atau personelnya. Kini, formasinya adalah : Fuji Jahat (Vokal), Dedi Stanza (Gitar), Zaenal Mithun (Bass) dan Evi (Drum).
Dua buah album sudah mereka rilis, diantaranya album Penjahat (1999) dan album Rekayasa Sosial (2003). Selain album sendiri, Band yang semua personelnya sudah berkeluarga ini dan masing-masing sudah memiliki pekerjaan diluar musik ini, juga terlibat dalam 8 album kompilasi baik di tingkat kota maupun nasional bersama band underground lainnya.
Dedi dan Fuji, dua personel Bandit Chaos mengatakan bahwa musik underground adalah pilihan mereka. “Pekerjaan utama kami adalah bermusik, sampingannnya adalah bekerja kayak di PT, wirausaha dan lain-lain,” ujar Dedi.
Menurut mereka, banyak faktor yang menghambat perkembangan musik underground saat ini, khususnya di daerah mereka di Sukamandi, diantaranya adalah pemerintah dan aparat yang selalu mempersulit perizinan ketika mereka akan melangsungkan konser, juga media yang selalu memojokan musik underground yang dianggap biang rusuh.
“Mungkin larangan dan citra itu muncul, karena ulah kami sendiri yang sering mengkritik kebijakan pemerintah lewat lirik lagu-lagu yang kami buat dan nyanyikan. Tapi, kami tidak memperdulikan larangan itu, toh kami puas karena telah mengeluarkan ide dan unek-unek kami,” Ujar Fuji mewakili teman-temannya.
Berikut adalah alamat dan kontak Bandit Chasos : alamat (Sukamandi, Depan SMP 2, Timbul Foto, Kec. Ciasem), Cp (085659285666).
Kolobos (Karawang)
Inilah salah satu band underground asal Karawang dari 9 band yang tampil kemarin. Band yang berdiri pada tahun 1999 ini berformasikan : Riki (Gitar), Andi (Bass), Lala (Vokal) dan Aip (Drum).
Riki, Sang Gitaris, mewakili teman-temannya menuturkan bahwa nama Kolobos sendiri berasal dari bahasa Yunani yang artinya amputasi. Kolobos sejak berdiri hingga sekarang sudah tampil dibanyak pagelaran atau konser, “yang terjauh itu di daerah Jawa sana (jawa timur/jawa tenga), saya lupa lagi tepatnya,” ujar Riki.
Hingga kini Kolobos sudah tergabung dalam beberapa album kompilasi, baik bersama band lokal maupu luar Karawang. Ia berharap seiring dengan perkembangan musik underground, khususnya di Karawang, mereka dapat menelurkan album single.
Ketika ditanya ketertarikannya terhadap mayor label, Riki menururkan, “Okay aja, asal tidak mengekang kita. Kalau mengekang, kita lebih baik bergerak di jalur indie saja seperti sekarang,” ujar Riki bersemangat.
Mengenai perkembangan musik underground di Karawang, Riki menerangkan bahwa musik underground di Karawang kurang mendapatkan ruang yang banyak dalam arti mendapatkan kesempatan seperti dalam pagelaran di Mosters of Rock ini. “Perizinan acara terkadang sulit dan pihak yang menggelar hanya segelintir, malah saya juga dan temen-temen yang sekaligus jadi event organizernya,” tutur Riki.
Berikut adalah alamat dan kontak Kolobos : alamat (Distro Why Not, Jl Kertabumi Karawang), Cp (085697473191)
***
Banyak hal menarik yang KarIn jumpai ketika berbincang dengan Bandit Chaos maupun Riki dari Kolobos. Pada intinya, KarIn menyimpulkan bahwa mereka (musisi underground) memiliki energi dan kreatifitas luar biasa, buktinya mereka masih bisa bertahan ditengah himpitan maupun diskriminasi hukum maupun sosial yang menghampiri. Sulitnya perizinan konser, anggapan negatif dari masyarakat yang cenderung dibuat oleh media massa, adalah beberapa diantara hambatan yang mereka hadapi juga atasi sejauh ini.
Independen atau kemerdekaan itulah yang diusung Bandit Chaos dan Kolobos, juga mungkin band-band underground lainnnya. Tidak mau ditekan, namun juga tidak mau menekan. Apapun yang keluar dari mereka, baik dalam aksi panggung, hentakan drum, raungan melodi gitar, dentuman bass hingga lengkingan vokal dari vokalis yang menghantarkan lirik-lirik kritis adalah luapan dan aspirasi mereka yang jujur, tanpa dibungkus kepentingan politik ataupun industri rekaman. (Deni Andriana)






tanta dunk……….!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
da yang tau band mersedez gag?????????
please informasinya!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
thanks b4
Duh nAg kArawAng YAH sAMa DunS…
EmANg bASecAmP nYA kaliAn DmnA?
lagunya kurang ngerock……………………….tapi enak ko gw suka bgt aliranya…………………..he…..he……..he
poster ramonesnya masih khan……..(jangan dijual bank) he…he..he….
aya acara deui iraha kang…?
trus…dimana deui tah aya ?