Published On: Sat, Oct 11th, 2008

Rumah Bersejarah Di Rengasdengklok

Rengasdengklok (KarIn) – Pada tanggal 16 agustus 1945 silam, kelompok pemuda menculik Soekarno dan istri beserta anaknya ke Rengasdengklok Karawang, dan menyembunyikannya di sebuah rumah milik warga Tionghoa, bernama Djiauw Kie Siong. Penculikan tersebut adalah usaha dari para pemuda untuk mengamankan Soekarno dari pengaruh Jepang yang akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia.

Dirumah itu, selain diamankan, Soekarno juga didesak oleh kaum muda untuk segera memproklamasaikan kemerdekaan Indonesia, tanpa harus menunggu kemerdekaan yang berupa hadiah dari Jepang. Pemuda menganggap kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II adalah momen yang tepat bagi Bangsa Indonesia untuk memerdekakan diri, mengingat kekuatan Jepang yang mulai melemah. Peristiwa perundingan di rumah Djiauw Kie Siong itu kemudian kita sebut dengan peristiwa Rengasdengklok.

Kini, setelah setengah abad bangsa kita merdeka, jejak sejarah tersebut masih bisa dikunjungi. Bedanya, kini rumah bersejarah itu lokasinya dipindahkan, terletak sekitar 100 meter dari Monumen Kebulatan Tekad. Adapun letak rumah yang dulu didiami Soekarno berada didekat monumen kebulatan tekad. Pemindahan ini dilakukan karena lokasi aslinya dahulu terkena luapan lumpur ketika terjadi erosi di Sungai Citarum pada tahun 1957. Pemindahan ini dilakukan atas perintah Soekarno. Karena itu pulalah di lokasi aslinya dulu, kemudian dibangun Monumen Kebulatan Tekad.

Rumah yang sebagian besar bahan bangunannya diambil dari rumah aslinya ini, hingga saat ini diurus oleh cucu Djiauw Kie Siong, dengan desain bangunan tidak jauh berbeda dengan rumah yang dulu. Yang berbeda, sekarang sebagian benda atau perabotan rumah sudah diganti dengan replikanya. Adapun perabotan yang asli, ditempatkan di Museum Sri Baduga di Bandung.

Di rumah ini, kita bisa menemukan benda asli diantaranya cermin, meja, foto, lukisan serta bale-bale yang terletak di depan rumah. Sedangkan, ranjang yang dulunya ditempati Soekarno, kursi diruang tengah yang menjadi tempat berunding sudah dialihkan ke Museum Sri Baduga.

Mengenai rumah warisan kakeknya, dua orang cucu Djiauw Kie Siong menyatakan keprihatinannya pada kondisi rumah yang dikelolanya kedepan. Mereka kesulitan dalam merawat rumah tersebut. Walaupun sebagian besar keasliannya sudah hilang, namun menurut mereka rumah ini tetap memiliki nilai sejarah, apalagi pemindahan rumah tersebut bukan karena disengaja, tapi karena musibah akibat erosi Citarum.

Setiap bulannya, pihak keluarga mengaku mendapatkan uang intensif sebesar 200 ribu rupiah dari Museum Kepurbalakalaan di Serang Banten, namun mereka menilai uang tersebut tidaklah cukup dengan beban perawatan yang lebih besar. Apalagi, tugas mereka bertambah karena banyak pengunjung yang datang. Mereka harus melayani obrolan dan keperluan dari para pengunjung, salah satunya dengan menyediakan buku tamu bagi para pengunjung. Dari buku tamu yang ada disana, bisa dilihat ternyata para pengjungnya tersebar dari beberapa kota diluar Karawang, bahkan luar Jawa Barat.

Pernah, menurut cucu Djiauw Kie Siong ini, rumah tersebut diisukan akan dibeli oleh pihak swasta, dengan tawaran sebesar 2 milyar rupiah. Namun, saat itu pemerintah melalui Pemkab Karawang menolaknya, dengan alasan merupakan asset negara, tidak dijual kepada swasta. Sayangnya tawaran ini tidak sampai ke pihak keluarga. Dan, ketika ditanyakan jika ada tawaran serupa yang menghampiri lagi, cucu tertua menjawab : ”Kami akan mejualnya, daripada kami tidak mampu merawatnya, terus pemerintah juga kurang berperan, lebih baik dijual. Kami yakin pembelinya nanti akan merawat dan melestarikan lebih baik lagi dibanding kami ataupun pemerintah sekarang.”

Mengenai perhatian pemerintah terhadap nasib rumah ini, mereka pun menyayangkan kenapa pemerintah lebih memperhatikan Lubang Buaya dibanding rumah ini, ”kalau itu kan (lubang buaya) matiin para jenderal, nah ini (rumah) kan ngebangun negara”, ungkap cucu tertua, bernama Iim tersebut. (Deni Andriana)

Silahkan Berkomentar Dengan Akun Facebook Anda!

comments

Displaying 8 Comments
Have Your Say
  1. […] hanya pindah alamat rumah. Hal ini, jika kita ambil contoh sepertinya tidak ada ubahnya dengan Rumah Saksi Proklamasi di Rengasdenglok yang kini berubah alamat setelah tertimba banjir Citarum di era 60-an. Bedanya, […]

  2. […] Rumah Bersejarah Di Rengasdengklok […]

  3. Ada yang pernah mampir di : http://sejarahkita.blogspot.com/2006_08_01_archive.html ?
    Rumah Jiau Ki Siong ditempati Soekarno, Hatta, Fatmawati dan Guntur hanya selama kurang lebih 10 jam saja. Jadi tidak pernah menginap karena Soebardjo menjemput sore harinya. Malamnya Soekarno-Hatta sudah ikut pertemuan di rumah Maeda.

  4. […] Tapi khawatir mencolok, kemudian dipindahkan kerumahnya seorang China bernama Giau I Siong atau Djiauw Kie Siong. Rupanya dipelopori para prajurit PETA, diwilayah Rengasdengklok sudah terjadi perebutan kekuasaan […]

  5. sri sulastri says:

    karawang!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!cayo

  6. ryannat says:

    gw barusan ke rmh itu….
    ternyata djiauw kie siong telah meninggal pada tahun 1964….
    tetapi istrinya masih tinggal di tmpt itu!!!!!!
    tetapi yg gw bngung
    di samping rmh djiauw kie siong ada rumah lg
    tp menurut bu Iin pemilik rmh tersebut berkata
    “rumah itu rumah cucu nya djiauw kie siong”
    tp isinya kosong!!!!!!!
    mengapa bsa bgitu y???
    dan memang pada saat itu sungai citarum yg ad di stu sdng meluap!!!!!!!!!
    gw td ke monumen yg berupa hanya gambar
    ternyata di sana hanya sejarah tentang jepang saja. gk ad sejarah tentang penjajahan belanda
    yg gw bingung knp rmh itu tdk mw di jual dengan harga yg besar 2 milyar….
    pokoknya mah karawang nmr satu di indonesia!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    tmpt sejarah terbesar!!!!!!!!!!!!

  7. ryannat says:

    ternyata djiauw kie siong saudara tmn gw!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    hbat kan cayoo!!!!!!!!

  8. Helent Shentia Ricky says:

    Alamatnya dimana? aku mau tau donk..

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>