Cerpen

Aku dan Adikku Hanya Selisih Beberapa Tahun Saja

20th May, 2010 | Penulis: Redaksi KarIn | Rubrik: Cerpen

Oleh : Muhammad Rizki – Aku dan adik ku hanya selisih beberapa tahun saja. Tepatnya dia lebih muda 2 tahun. Dia seorang perempuan yang cantik seharusnya saat ini. Dan masa kecil kita cukup bahagia sebelum kejadian itu. Tiba-tiba kecelakaan itu merengggut pembuluh darah otak kecil adikku dan bak “mesin waktu” yang rusak dan berhenti…STOP !! Berhenti disaat itu, tepatnya di umur dia 9 tahun. Waktu telah menghentikan pikirannya tentang cinta dan kefanaan dunia ini.



Merampasmu

17th Jan, 2010 | Penulis: Redaksi KarIn | Rubrik: Cerpen

Oleh : Neni Martini – “Mengapa kau begitu lama sendiri ?” Tanyamu suatu ketika di gerbang malam. “Karena aku bisa menjadi diri sendiri, melakukan semua hal yang aku ingin tanpa ada yang mengatakan jangan,” jawabku tanpa pikir panjang. Kamu terdiam dan tidak meneruskan, kembali asik dengan nasi dan ayam bakar serta segelas lemon tea. Beberapa hari dan bulan berlalu, tiba-tiba di awal fajar mengetuk pintu rumahku. “Bolehkah aku menemanimu? Membangun rumah di hatimu?”



Menghadirkan Bahagia

5th Jan, 2010 | Penulis: Redaksi KarIn | Rubrik: Cerpen

Oleh : Neni Martini – Hari ini, saat gerimis menyapa bumi dan menghadirkan dingin, aku ingin bercerita tentang kita, dalam mimpiku semalam. Kamu ingin mendengarnya kan? Lima belas jam yang lalu, kita duduk berdua, di sebuah saung di tepi kolam. Seperti biasa, kamu memancangkan beberapa pancing di pinggir kolam, menggoda ikan-ikan dengan perangkap kegampangan mendapat makan. Ah, nakal sekali kamu. Aku, duduk di tepi saung, menjatuhkan kedua jempol kaki di atas air.



Aku dan Lie Putus (Tamat)

21st Dec, 2009 | Penulis: Hakimi | Rubrik: Cerpen

Oleh : Hakimi – Aku ingin menyelesaikan ceritaku tentang Lie. Di bagian awal aku telah banyak bercerita tentang kisah cinta masa remajaku. Pada mulanya, ketika kata cinta baru ku ucapkan kepada yaaa.. 4 atau 5 wanita, masih ada getaran yang terasa di dadaku. Tapi setelah itu aku jadi lelaki yang sangat mudah mengucapkan kata cinta. Saking mudahnya, bahkan sempat aku ucapkan kepada pengantin yang baru nikah seminggu.



Aku dan Lie Putus (Bagian III)

15th Dec, 2009 | Penulis: Hakimi | Rubrik: Cerpen

Oleh : Hakimi – Aku tertidur. Bik Sena tetanggaku membangunkan aku sekitar isya. Ia heran karena rumahku gelap tak berlampu. Jadi Ia masuk dan membangunkan aku. Bik Sena membantuku menyalakan lampu kemudian meninggalkan aku dalam gatal. Aku bangun dengan rasa gatal luar biasa. Kaki, tangan, muka. Wah. Menjelang malam serangan nyamuk bangka sangat luar biasa. Antinya hanya kelambu. Dan aku tak sempat memasang. .



Aku dan Lie Putus (Bagian II)

17th Oct, 2009 | Penulis: Hakimi | Rubrik: Cerpen

Oleh : Hakimi – Waktu seakan terhenti. Aku tak tahu berapa lama kami berdemikian. Yang ku tahu berikutnya adalah kami bersama-sama melepas. Mana yang lebih dulu kulepas aku tak tahu. Pelukan, b…r, atau bersamaan. Dan itu karena ada suara ketukan pada pintu. Lie bergegas ke pintu dan sesaat kemudian teriakan gembiranya terdengar. Bapaknya datang. Dengan manja Lie merangkul ayahnya, dan ayahnya membiarkan tingkah Lie.



Aku dan Lie Putus (Bagian I)

8th Oct, 2009 | Penulis: Hakimi | Rubrik: Cerpen

Oleh : Hakimi – Putus cinta adalah biasa. Apalagi masa remaja. Masa di mana kata cinta sedemikian mudah terucap dari mulutku. Mungkin karena mudahnya terucap maka putus cinta kala remaja adalah biasa. Setidaknya bagiku dan jadilah itu sebagai bagian dari kisah-kisah masa remajaku. Yang luar biasa atau tidak biasa adalah sebab-sebab yang mengakibatkan putus cinta itu. Padahal aku sendiri tak mengerti apa itu cinta.



Dari Pojok Victory Sampai Ke Pemilihan Presiden (Serial Bralenoist)

31st Jul, 2009 | Penulis: Redaksi KarIn | Rubrik: Cerpen

Oleh : Okti Li – Kamu tahu apa itu Bralenoist? Kedengarannya memang rada-rada asing di telinga kita yang lebih familiar dengan bahasa sehari-hari di dapur, bahasa sehari-hari dengan pekerjaan, dan bahasa-bahasa lain. Yang pasti, Bralenoist ku temukan saat kumpul-kumpul di Victory Park, jaman dulu kala ketika masih mengais rezeki, melancong di ‘negara beton’ sana. Setelah ku amati..



Sastra Jendra Yuningrat

12th Feb, 2009 | Penulis: Hakimi | Rubrik: Cerpen

Aku ingat betul hari itu.. minggu pagi. Itu adalah kali yang pertama Ia datang bertamu. Setelah beberapa saat berbicang-bincang, aku jadi tahu bahwa Ia tinggal di sebuah kampung yang jaraknya kira-kira 3 km. Dan di kampung itu tampaknya Ia orang baru. Mengapa? Karena ketika kepadanya aku bertanya apakah Ia kenal dengan Bapak A, Bapak B, [...]



Asydiqoll…..

8th Feb, 2009 | Penulis: Hakimi | Rubrik: Cerpen

Limabelas tahun ngumbara. Lain waktu sakeudeung. Limabelas tahun teh lamun diukur ku nyawah mah sarua jeung 30 kali panen. Sakitu lilana ninggalkeun nu jadi indung, Oman tara ngirim kabar ka lembur. Boro-boro ka dulur atawa babaturan. Ka kolotna sorangana ge tara. Tara weh. Ku kolotna  Oman geus dilapurkeun. Geus diyasinkeun ku opat puluh santri. Lamun [...]